^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

MEMILIH PIKIRAN

Saat Anda sedang dalam kondisi sakit, kemudian memutuskan untuk pergi ke dokter, dan dokter sudah selesai melakukan diagnosa serta memberikan resep, kalimat apa yang biasanya diberikan oleh sang dokter kepada Anda, sebelum Anda meninggalkan ruang periksa ?

“Sering-sering ke mari ya, Pak ....”

Ah, pasti bukan itu.

Saya yakin tak ada seorang dokter pun yang menginginkan pasiennya jatuh sakit lagi.

“Cepat sembuh, ya, Pak....”

Oke. Banyak juga dokter yang mengatakan kalimat di atas. Kalimat apa lagi, yang sering diucapkan oleh seorang dokter sebelum pasiennya meninggalkan ruang periksa ?

“Banyak istirahat, Pak. Kalau ada masalah, jangan terlalu dipikirkan....”

Yess. Kalimat terakhir sering muncul juga setelah sang dokter selesai memeriksa pasien.

Para ahli kesehatan, neurolog, dokter, dan beberapa riset ilmiah mengatakan, 70% penyakit yang diderita seseorang berawal dari pikirannya. Jika pikiran terganggu, maka kondisi tubuh pun akan ikut terganggu. Pikiran mengatur segala fungsi tubuh manusia.

Sedemikian berharganya pikiran, sehingga Samuel Smiles, pengarang Skotlandia, dalam salah bukunya mengatakan :

Tanamkan pikiran, maka engkau akan menuai tindakan

Tanamkan tindakan, maka engkau akan menuai kebiasaan

Tanamkan kebiasaan, maka engkau akan menuai karakter

Tanamkan karakter, maka engkau akan menuai nasib

Dengan kalimat yang lebih singkat, Samuel Smiles ingin mengatakan bahwa awal dari segala-galanya adalah pikiran yang kita miliki. Pikiran kitalah, yang nantinya akan membuat kita menuai nasib. Sesuatu yang Anda pikirkan hari ini, apapun itu, akan berbuah kelak di kemudian hari.

Stephen R. Covey, pengajar leadership dan pengarang buku “Seven Habits of Highly Effective People”, juga mengatakan, perubahan-perubahan yang berfokus pada tindakan seseorang, hanya akan menghasilkan perubahan jangka pendek. Di sini lain, perubahan-perubahan yang berfokus pada pikiran, akan menghasilkan perubahan yang bersifat jangka panjang.

Secara umum, kita tidak dapat berhenti berpikir, kecuali dalam kondisi tidur ( meski ada juga ahli yang mengatakan pikiran kita tetap bekerja ketika tidur, hal itu terlihat dari mimpi-mimpi yang muncul di pikiran kita ). Kita selalu memasukkan ide atau gagasan ke dalam pikiran. Saat pertama kali berkenalan dengan seorang lawan jenis, misalnya. Pikiran kita menelurkan banyak gagasan, “Dia wanita yang cerdas”, atau “Dia wanita yang punya penampilan menarik”, atau bisa juga, “Wajahnya mirip dengan teman sekolah saya dulu”, atau hal lainnya.

Karena pikiran kita tidak dapat berhenti berpikir, proses memilih pikiran menjadi sangat penting. Dalam buku “Wake up Call”, dan sering juga saya ungkapkan dalam pelatihan-pelatihan leadership di berbagai perusahaan, menurut para ahli, setiap hari ada 60.000 hingga 80.000 gagasan yang muncul di pikiran kita. Banyak sekali, bukan ? Dan sebagian besar gagasan, 60% hingga 70%, merupakan gagasan-gagasan negatif yang kita dapatkan dari berita-berita kriminal, kerusuhan, atau perang di televisi, gosip artis, kampanye hitam politisi, maupun sekumpulan hoax yang bertebaran di media sosial. Anda pasti mengetahui, bagi beberapa orang, sebuah berita asalkan bisa bombastis dan memancing perhatian banyak orang, tepat untuk ditayangkan berulang kali, lepas dari benar atau tidaknya berita itu.

Apa yang akan terjadi dalam hidup Anda, bila dalam sehari Anda mendapatkan 60.000 gagasan negatif ? Sebaliknya, hal-hal hebat apa yang akan terjadi, seandainya Anda dapat memilih  60.000 gagasan positif dalam sehari ? Dalam seminggu ? Dalam sebulan ? Dalam setahun ? Dalam 5 tahun ?

Kemampuan untuk memilih pikiran positif, atau pikiran yang tepat untuk Anda dan orang-orang di sekitar Anda, akan sangat berguna bagi seorang Leader seperti Anda. Dengan memiliki kemampuan tersebut, Anda dapat mengendalikan banyak hal di dalam kehidupan.

Pada saat pikiran Anda terpapar ide atau gagasan negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan gagasan positif. Syarat utamanya, diri Anda memiliki kesadaran yang cukup untuk mengetahui masuknya gagasan negatif tersebut.

Dalam beberapa kasus, hanya dengan mengatakan, “Stop ! Saya memutuskan untuk mengganti [ pikiran negatif ] dengan [ pikiran positif ], sekarang !”, Anda sudah dapat mendapatkan hasil yang optimal.

Misalnya, suatu saat Anda dipenuhi perasaan marah terhadap anak buah Anda, karena ternyata dia sudah berulang kali berbohong kepada Anda. Ketika rasa marah itu sudah memuncak, tarik napas sebentar, mungkin tiga atau empat kali tarik - keluar napas, dan katakan, “Stop ! Saya memutuskan untuk mengganti pikiran-pikiran negatif tentang si Badu, dengan pikiran-pikiran yang lebih positif, sekarang !”

Kata “sekarang” menegaskan bahwa Anda sungguh-sungguh berkomitmen dan ingin melakukan hal tersebut saat ini juga, tanpa harus menunggu kondisi-kondisi tertentu. Anda tidak memerlukan persyaratan khusus untuk memilih pikiran Anda. 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.