^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Lupakan Jabatan Anda !

Bila berbicara tentang kepemimpinan, maka orang sering meletakkannya dalam konteks posisi, jabatan atau pangkat. Seseorang dianggap sebagai pemimpin,

bila dia secara resmi menyandang jabatan sebagai presiden direktur, manager, team leader atau ketua organisasi. Selama belum memegang posisi atau jabatan itu, dia belum bisa disebut sebagai pemimpin. 

Yang menarik, sering kali orang yang sudah menjabat sebagai manager atau team leader pun tidak merasa percaya diri untuk mengatakan “Saya adalah pemimpin di organisasi ini”. Hal ini terlihat saat mereka mengatakan “Wah, saya di sini cuma karyawan, Pak”, “Saya sekedar anak buah”, atau malah “Maaf, bukan saya pimpinan di sini”.

Stephen R. Covey, pakar kepemimpinan yang mencetuskan konsep 7 Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa kepemimpinan berhubungan dengan pengaruh. Kepemimpinan tidaklah sekedar posisi, jabatan atau pangkat yang dipegang oleh seseorang. Seberapa besar pengaruh seseorang kepada orang lain, sebesar itulah kadar kepemimpinannya.

Bila kita cermati, pada prakteknya memang banyak sekali orang-orang yang secara resmi menyandang posisi pemimpin tidak tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Jangankan pengaruh pada departemen atau bagian lain, bahkan pada staf-stafnya sendiri pun dia tidak memiliki pengaruh. Yang dia miliki hanyalah sekedar jabatan pemimpin. 

Sering terlihat di organisasi atau departemen, seseorang yang secara “resmi” berperan sebagai pemimpin, tidak mendapatkan perhatian dari bawahannya. Bawahannya lebih suka membicarakan persoalan organisasi kepada orang lain yang secara resmi bukanlah pemimpin, namun mereka akui sebagai pemimpin. 

Mereka yang terjebak pada paradigma pemimpin adalah posisi atau jabatan, sering kali menggunakan posisinya untuk mencoba mempengaruhi orang lain. Mungkin lebih tepatnya, mereka menggunakan posisi untuk mengontrol orang lain. 

Bisa jadi, orang-orang memang akan mengikutinya karena dia memang punya wewenang untuk itu. Namun, mereka akan mengikutinya sampai batas-batas kewenangan yang dimiliki sang pemimpin. Ketika pemimpin meminta mereka bekerja lebih keras lagi dan meminta tambahan waktu, biasanya hal tersebut susah dipenuhi. Tentu, lebih susah lagi untuk meminta bawahan bekerja dengan sepenuh hati. 

Pemimpin yang mengandalkan posisi, pangkat atau jabatan, akan mengalami banyak kesulitan saat bekerja dalam sebuah organisasi yang diisi oleh para relawan ( seperti organisasi sosial, organisasi non profit, dll. ). Kesulitan juga akan didapatkan manakala sang pemimpin bekerja dengan orang-orang yang lebih muda dan memilki pendidikan tinggi.

Para relawan biasa bekerja karena melihat suatu idealisme yang besar dalam suatu pekerjaan. Bila mereka sudah dapat melihat hal ini, mereka akan bekerja dengan kesungguhan hati. Mereka cenderung tidak bisa menerima pemimpin yang hanya mengandalkan wewenang dan kekuasaannya saja.

Demikian pula orang-orang muda yang berpendidikan tinggi. Sifat dinamis, energik dan daya kritis yang mereka miliki membuat mereka cenderung tidak mau diatur-atur. Kebutuhan mereka untuk selalu kritis akan bentrok dengan pemimpin yang berparadigma posisi dan jabatan. 

Begitu kita mendapatkan jabatan sebagai pemimpin, pekerjaan kita tidaklah lantas selesai. Bahkan, pekerjaan kita baru saja dimulai. Saat kita dilantik secara resmi sebagai pemimpin, kepemimpinan memang sudah diberikan kepada kita, namun bisa jadi belum kita miliki. Maksudnya, ada banyak hal lain yang harus kita kerjakan supaya kepemimpinan benar-benar dapat kita miliki. 

Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kata kerja, bukan kata benda. Oleh karena itu, begitu menyandang posisi sebagai pemimpin, kita harus bergerak untuk mewujudkan kepemimpinan tersebut. Yang menantang adalah pekerjaan untuk mewujudkan kepemimpinan itu tidak dapat instan dan sekejab. Ada serangkaian proses yang harus kita jalani. 

Dari serangkaian proses tersebut, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memahami bahwa posisi pemimpin diberikan kepada kita pasti karena kita dipandang punya potensi untuk memimpin. Sekali lagi saya katakan, kita punya potensi ! Kita belum menjadi pemimpin, tetapi kita punya potensi untuk memimpin. Kepemimpinan sudah diberikan kepada kita, namun kita belum memiliki sepenuhnya. 

Posisi atau pangkat yang melekat ke kita tidak memberikan jaminan bahwa kita bisa memimpin. Posisi atau pangkat tidak memberikan garansi kemampuan kita untuk memimpin. Kitalah yang harus mewujudkannya. Kitalah yang harus berusaha sendiri. Kita yang harus menunjukkan kepada orang lain bahwa kita layak untuk memimpin. 

Langkah kedua yang harus kita lakukan adalah berhenti mengandalkan jabatan untuk membuat orang lain bekerja. Mengandalkan jabatan, posisi atau pangkat memang terlihat mudah dan gampang. Tetapi dengan melakukan hal itu kita tidak dapat meraih kepemimpinan sejati. Kita juga tidak akan dapat mengambil hati orang lain. 

Tanpa adanya kesungguhan hati, orang lain akan mengikuti kita dengan terpaksa. Bisa jadi, mereka tidak akan mengeluarkan kemampuan mereka hingga 100%. Di sisi lain, sebagai pemimpin kita pasti menginginkan bawahan bekerja dengan kita 100% bukan ? Bahkan kalau bisa 110%....

Jika kita bolak-balik mengatakan kepada bawahan bahwa kita adalah pemimpinnya, maka kita bukan pemimpin. Pengaruh kita tidak akan bertambah luas dengan melakukan hal itu. Jika kita ingin menjadi pemimpin, jangan hanya mengontrol dan memeriksa tetapi mulailah mengajak kerja sama. Jika ingin menjadi pemimpin, jangan hanya memerintah tetapi mulailah memotivasi. Jika kita ingin menjadi pemimpin, jangan hanya mengukur kesalahan bawahan tetapi mulailah menyampaikan visi. 

Tidak mudah memang menjadi pemimpin, tetapi itu yang harus kita lakukan.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.