^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Appreciative Intelligence

Ilmu dan gagasan tentang kecerdasan manusia terus berkembang. Selain mengenal tentang IQ, Emotional Inteligence ( Daniel Goleman ), dan Spritiual Intelligence ( Ian Marshall dan Danah Zohar ), kita juga mengenal teori 8 Kecerdasan Manusia ( Howard Gardner ). Paul Stoltz menggagas juga tentang Adversity Quotient...

Awal 2006, Tojo Thatchenkery dan Carol Metzker mengungkap tentang Appreciative Intelligence. Dalam bukunya “Appreciative Intelligence, Seeing the Mighty Oak in the Acorn”, Thatchenkery dan Metzker mengawali gagasannya tentang Appreciative Intelligence dengan sepak terjang Charlie Pellerin, salah satu direktur NASA di tahun 90-an.

Tahun 1990, saat teleskop ruang angkasa Hubble diluncurkan oleh NASA, masyarakat dan ilmuwan memiliki harapan yang tinggi bahwa teleskop ini dapat mengungkap fenomena kosmik dan galaksi yang masih menjadi misteri. Tetapi apa daya, kerusakan yang dialami oleh teleskop ini membuat masyarakat mencemooh dan menertawakan Hubble dan seluruh teknisi yang ada di belakangnya.

Ilmuwan-ilmuwan, insinyur dan hampir semua teknisi berpengalaman NASA angkat tangan untuk memperbaiki Hubble. Tetapi Pellerin tidak dapat menerima kegagalan ini. Pellerin melihat Hubble sebagai proyek yang belum selesai, sementara rekan-rekannya melihat Hubble sebagai proyek gaga. Pellerin melihat sisi positif dari Hublble, teleskop ruang angkasa yang nantinya sangat berguna untuk menyingkap misteri kosmik dan galaksi.

Thatchenkery dan Metzker mencatat, Pellerin memiliki sesuatu yang orang lain tidak punya. Dalam hal kecerdasan, pengalaman, kemampuan analisa, rancang bangun model, Pellerin sama seperti rekan-rekannya yang lain. Tetapi satu hal yang dimiliki Pellerin dan tidak dimiliki oleh rekan-rekannya : Appreciative Intelligence.

Secara ringkas, Appreciative Intelligence ( AI ) adalah kemampuan untuk menerima hal-hal positif yang ada di depan mata kita. AI adalah kemampuan untuk melihat jauh ke depan, memberikan terobosan baru, memberikan solusi yang berharga di masa depan meski belum terlihat jelas di saat ini.

Tiga komponen pembentuk AI adalah :

- Reframing
- Apresiasi terhadap hal-hal positif
- Melihat masa depan dari masa sekarang

Reframing
Reframing adalah kemampuan untuk menerima, melihat, mengintepretasikan atau memberikan makna terhadap orang lain, obyek atau peristiwa tertentu.

Framing adalah proses psikologi ketika seseorang secara khusus melihat orang lain, obyek, atau peristiwa dari sudut pandang tertentu. Contoh klasik tentang reframing adalah gelas yang setengahnya terisi oleh air.

Orang yang optimis akan mengatakan gelas tersebut dalam kondisi ”setengah penuh”, sementara orang yang pesimis akan mengatakan gelas tersebut dalam kondisi ”setengah kosong”. Disebut setengah penuh atau setengah kosong, volume air dalam gelas tersebut dalam kondisi yang sama.

Apresiasi terhadap Hal-hal Positif
Memberikan apresiasi, atau bersikap apresiatif, merujuk pada proses untuk memilih dan menilai hal-hal positif yang sedang kita lihat.

Saat seseorang sedang melihat lukisan, dia bisa saja terhanyut untuk melihat keindahan lukisan tersebut. Sebaliknya, orang lain bisa saja memilih untuk melihat kejelekan lukisan karena dia bermaksud membelinya dengan harga rendah.

Orang-orang sukses memiliki kesadaran untuk melihat situasi di hadapannya dari sisi positif. Mereka dapat melihat bakat dan potensi orang lain meski sedemikian buruknya perilaku orang itu.

Melihat Masa Depan dari Masa Sekarang
Dengan kemampuan untuk melakukan reframing dan bersikap apresiatif, seseorang akan mempunyai kemampuan untuk meraih komponen ketiga AI, yaitu melihat masa depan dari masa sekarang.

Orang dengan AI tinggi sadar bahwa dirinya berhadapan dengan masalah atau situasi sulit, tetapi dia tidak berkutat dengan kesulitan yang dihadapi. Daripada berkubang dengan kesulitan, dia lebih memilih untuk mencari dan menemukan peluang yang baru.

Sumber : Appreciative Intelligence, Seeing the Mighty Oak in the Acorn, Tojo Thatchenkery and Carol Metzker, 2006

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.