^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Kenali Audiens

Penting sekali buat kita untuk mengenali audiens yang akan berhadapan dengan kita. Sejauh memungkinkan, carilah data mengenai komposisi jenis kelamin, umur, jabatan, masa kerja, dan lain-lain. Ibarat sebuah pertempuran, dengan mengenal audiens kita sudah memenangkan setengah pertempuran. Dengan mengenal audiens kita dapat menentukan joke-joke yang akan kita lempar, cerita yang akan kita bawakan, maupun istilah-istilah yang akan kita pakai. Berhadapan dengan audiens yang sudah memiliki puluhan tahun masa kerja, tentu berbeda dengan audiens yang baru sebulan atau dua bulan bekerja. Bila audiens semuanya lulusan SMA, kita dituntut memakai bahasa dan contoh-contoh yang lebih sederhana.

Bagaimana bila kita tidak sempat mendapatkan data audiens?

Gampang saja, saat-saat awal presentasi bisa kita gunakan untuk kenal lebih dekat dengan audiens. Minta saja mereka untuk memperkenalkan diri, jabatan, maupun masa kerjanya di perusahaan. Dengan begitu kita akan dapat mengenali keseluruhan audiens.

Bagaimana bila jumlah audiensnya sangat banyak, di atas 30 orang, sehingga tidak memungkinkan untuk saling memperkenalkan diri?

Bila itu yang terjadi, teknik yang biasa saya pakai adalah melakukan ”survey audiens” secara singkat. Bila saya ingin mengetahui komposisi umur, saya akan bertanya kepada mereka ”Siapa di antara Anda yang berumur di bawah 30 tahun? Siapa yang di atas 50 tahun?

Bila saya ingin mengetahui masa kerja mereka, saya akan bertanya ”Siapa di antara Anda yang mempunyai masa kerja 5 tahun? Di atas 10 tahun?

Bagaimana bila saya ingin mengetahui komposisi jenis kelaminnya?

Ah, kalo itu sih lihat saja wajah-wajah dan tubuh mereka. Begitu, bukan?

Mengenali audiens ini penting sekali. Pernah terjadi, dalam sebuah pelatihan customer service, seorang pembicara dengan semangat dan berapi-api memberikan contoh tentang layanan hotel bintang lima di Australia di hadapan staf perusahaan yang semuanya adalah karyawan baru dengan pendidikan SMA. Meski materi si pembicara bagus, contoh yang diberikan terasa kurang membumi untuk audiens.

Saya pun pernah melakukan satu kesalahan fatal dalam sebuah pelatihan internal perusahaan. Tanpa mencoba mengenali audiens, saya panjang lebar menjelaskan mengenai prosedur perusahaan, cara pencegahan kesalahan dan lain-lain hal. Saya mengasumsikan mereka sudah paham dengan istilah-istilah perusahaan. Sepuluh menit sebelum sesi presentasi selesai, saya bertanya kepada mereka ”Apakah masih ada yang belum diketahui?” Wajah-wajah mereka terlihat bingung. Tatapan mata mereka kosong. Saat saya kembali bertanya, dengan polos seorang di antara mereka berkata,”Pak, kami kan masih karyawan baru, belum tahu tentang istilah-istilah yang Bapak sampaikan.”

Waduh, ternyata mereka karyawan yang baru dua minggu masuk, sementara saya pikir mereka adalah karyawan yang sudah dua tahunan kerja. Akhirnya, saya mengulang kembali hampir semua materi yang sudah dua jam saya sampaikan dengan pendekatan yang baru. Sebuah kesalahan fatal, bukan?

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.