^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

DEKATI AUDIENS

Hal pertama yang sering saya lakukan sebelum memberikan presentasi adalah melakukan PDKT ke audiens. Saya akan mendekati audiens, menjabat tangan mereka, mengenalkan diri saya, dan menanyakan namanya. Siapapun audiensnya, buat saya hal ini mutlak dilakukan. Saya mengikuti pepatah lama yang berujar ”tak kenal maka tak sayang”. Dengan mengenali audiens, saya mencoba menghilangkan penghalang antara mereka dan saya.

Dalam hal melakukan pendekatan kepada audiens, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

CARI TAHU NAMA AUDIENS

Dale Carnegie, dalam bukunya How to Win Friends and Make Influence, mengatakan bahwa ”nama seseorang adalah lagu terindah di telinganya”. Siapapun rasanya setuju dengan ungkapan itu. 

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, di tengah hiruk-pikuk pengunjung tiba-tiba ada seseorang yang menegur Anda dengan menyebut nama Anda, ”Hallo, Pak Andre, bagaimana kabarnya?” Bagaimana perasaan Anda? Senang sekali bukan? Meskipun Anda sendiri tidak begitu mengenal orang yang menegur Anda, tetapi perasaan senang dan bangga pasti ada di hati Anda. Wah, ternyata saya ini orang terkenal juga, begitu mungkin batin Anda.

Dari dulu sampai sekarang, kebutuhan untuk dikenali oleh orang lain sudah menjadi kebutuhan semua orang. Hal ini tidak memandang jenis kelamin, umur, pekerjaan maupun status sosial. Munculnya situs-situs perkenalan di dunia maya seperti blog, fiendster, facebook, dan lain-lain menunjukkan bahwa orang ingin dikenal oleh sebanyak-banyaknya orang lain.

Anda harus bisa memastikan bahwa nama setiap audiens sudah Anda ketahui. Kalaupun jumlah audiens cukup banyak, misalnya di atas 30 orang, pastikan bahwa mereka mengenakan stiker nama di dada mereka atau mempunyai papan nama di meja mereka. Akan lebih nyaman bagi audiens kalau Anda bisa mengatakan,”Ibu Dessy, bagaimana menurut Anda? Mungkin Ibu Dessy punya pendapat lain?” daripada mengatakan,”Barangkali Ibu yang berkaca mata dan memakai baju merah punya pendapat lain?”

Pastikan juga Anda bisa mengeja nama mereka secara benar. Salah sebut sedikit, kadang-kadang bisa berabe akibatnya. Suatu saat saya pernah menyapa salah seorang audiens seperti ini : ”Pak Suryo, bagaimana komentar Anda?” Alih-laih menjawab pertanyaan saya, yang bersangkutan sedikit komplain dan mengatakan,”Saya Surya, Pak. Bukan Suryo. Kalau Suryo orang Jawa. Saya Surya, orang Sunda.” Ternyata, saya salah mengeja namanya.

CARI TAHU LATAR BELAKANG AUDIENS

Yang dimaksud latar belakang di sini adalah mengenai pendidikan, jabatan, pekerjaan, maupun status sosial mereka. Untuk audiens yang berasal dari kota dan pulau yang berbeda di Indonesia, sering kali latar belakang kesukuan mereka bisa menjadi entry point yang tepat supaya kita bisa lebih dekat kepada audiens.

Saat seorang audiens memperkenalkan diri kalau dirinya berasal dari Samarinda, saya pun akan mengungkapkan sedikit pengalaman saya saat bertugas di Samarinda. Saat audiens lain mengatakan dirinya adalah orang asli Bali, saya akan menceritakan sedikit kekaguman saya akan pulau Bali. Demikian juga untuk yang lain. Pengalaman saya, dengan menceritakan kesamaan dan menanggapi latar belakang audiesn, chemistry antara saya dan audiens lebih cepat terbentuk. Tentang kesukuan, saya menghindari guyonan atau sikap bercanda yang cenderung memperolok salah satu suku.

Dalam suatu seminar, seorang pembicara bertanya,”Bapak Ibu, apakah ada yang berasal dari suku A?” Karena audiens tidak ada yang mengangkat tangan, pembicara tersebut melanjutkan dengan joke nya yang cenderung sarkastis dan memojokkan suku A tersebut. Setelah ceritanya selesai, audiens tertawa terbahak-bahak. Di tengah-tengah tawa audiens tersebut, tiba-tiba salah seorang mengangkat tangan dan mengatakan,”Maaf Bapak Ibu, sebenarnya saya dari suku A yang diceritakan tadi....”

Dapat Anda bayangkan situasi yang terjadi? Benar, situasi di ruangan mendadak senyap dan atmosfirnya berubah tidak enak. Meskipun si pembicara berulang kali menyampaikan maaf, tetap saja atmosfir seminar berubah menjadi kurang nyaman buat audiens. 

CARI TAHU HARAPAN DAN KEINGINAN AUDIENS

Sebelum kita berbicara panjang lebar tentang materi yang hendak kita sampaikan, penting sekali bagi kita untuk mengetahui harapan dan keinginan audiens. Kalau jumlah audiensnya sedikit, 8 – 10 orang, biasanya saya meminta mereka untuk maju satu persatu, memperkenalkan diri sekaligus memberitahukan harapan dan keinginannya dalam presentasi ini. Kalau jumlah audiensnya terlalu banyak, saya hanya menunjuk 2 – 3 orang untuk menyampaikan harapan mereka mengikuti presentasi saya.

BERIKAN APRESIASI KEPADA AUDIENS

Apresiasi positif bisa kita ungkapkan dalam bentuk kata pembukaan kita terhadap audiens, misalnya, ”Bapak Ibu Yang Terhormat, saya berikan terima kasih atas kedatangan Anda semua. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hari, ternyata Anda masih menyempatkan diri untuk datang ke tempat kami.”

Selain itu, apresiasi positif bisa kita ungkapkan saat audiens berpartisipasi dan merespon materi yang kita sampaikan. Berikan apresiasi positif atas pertanyaan yang diajukan, sharing pengalaman yang disampaikan, semangatnya yang tidak pernah habis, kemampuan komunikasinya, dll.

Sering kali, yang membuat audiens malas berpartisipasi dalam sebuah pelatihan atau seminar adalah rasa takut membuat kesalahan. Mereka takut mendapatkan komentar negatif dan kurang didukung oleh orang lain. Untuk itu, menjadi tugas Anda selaku pembicara untuk menciptakan atmosfir yang bisa menerima setiap kesalahan yang muncul dari audiens. Misalkan komentar salah seorang audiens kurang tepat atau melebar dari masalah utama, ungkapkan lagi pendapat mereka, gali apa maksudnya, dan sesuaikan dengan tema materi Anda. Jangan sekali-kali mempermalukan audiens dengan menyalahkan pendapat atau menertawakan idenya. Sekali Anda memberi komentar negatif terhadap audiens, seterusnya mereka akan sulit untuk diajak berpartisipasi. 

Agar dapat memberikan apresiasi positif, mau tidak mau, sebagai pembicara Anda harus memiliki kemampuan observasi yang tinggi terhadap audiens. Masing-masing orang yang berada di dalam ruangan memiliki sisi positif yang berbeda-beda.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.