^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Sampaikan Kisah Pribadi

Kevin Daley, seorang pakar komunikasi, mengungkap dalam bukunya Mastering Speaking, bahwa audiens lebih tergerak oleh kisah daripada fakta. Kisahlah yang membangkitkan perhatian audiens dan mempengaruhi pikiran audiens. Dengan kata lain, bila kita ingin audiens menyukai kita, buatlah kisah dalam setiap presentasi Anda.

Pertanyaannya kemudian ”Darimana kita mendapatkan ide untuk membuat kisah?”

Buat saya, membuat sebuah kisah bisa diawali dari diri sendiri. Tanpa harus mencari-cari, kita bisa membuat kisah pribadi. Saat menjadi fasilitator dalam pelatihan Training for Trainers, saya selalu meminta peserta untuk berlatih membuat sebuah kisah pribadi. Biasanya, saya memberi waktu mereka 5 – 10 menit untuk membuat kisah pribadi. Setelah itu bergantian mereka menceritakannya di depan audiens.

Dalam sebuah presentasi, kisah pribadi mempunyai beberapa keunggulan. Yang pertama, kisah itu benar-benar terjadi, bukan karangan atau khayalan kita. Yang kedua, kita bukan hanya menjadi ”penonton” tetapi juga ”pelaku” dalam kisah tersebut. Karena kisah itu benar-benar terjadi dan kita menjadi pelakunya, kita akan lebih lancar dan rileks saat menyampaikannya di depan audiens.

Untuk orang yang tidak terbiasa, membuat kisah pribadi pun dirasakan sulitnya setengah mati. Kevin Daley memberi pedoman untuk mencari suatu peristiwa yang benar-benar menggetarkan dan menggerakkan hati kita. Semakin besar peristiwa itu menggerakkan kita, semakin besar pengaruh yang diberikan kisah pribadi itu kepada audiens.

Buat saya, hal-hal yang menggerakkan hati kita bisa datang dari mana saja. Dari peristiwa kelahiran anak, hujan di sore hari, kecelakaan di tengah jalan, keberhasilan dan kegagalan kita dalam studi maupun kerja, dll. Pendeknya, semua kisah pribadi kita, sejauh sejalan dengan tema presentasi, sebenarnya layak dan pantas untuk diceritakan di depan audiens.

Untuk membuat kisah pribadi memberikan dampak yang hebat kepada audiens, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, berikan detail kepada kisah Anda sehingga audiens akan lebih mudah menangkap apa yang Anda kisahkan. Ibaratnya sebuah film, kisah Anda harus dilengkapi dengan detail berupa waktu kejadian, lokasi, pemeran utama dan pemeran pendukungnya.

Perhatikan presentasi yang disampaikan oleh Pembicara A di bawah ini :

”Teman-teman, dari 17.000 kecelakaan yang ada di jalan raya, ternyata 80% nya melibatkan sepeda motor. Karena itu, hati-hatilah saat berkendara dengan sepeda motor....”

Bandingkan dengan presentasi, yang dilengkapi dengan kisah pribadi, yang disampaikan oleh Pembicara B di bawah :

”Waktu itu, saya berboncengan dengan Toni di atas Yamaha Scorpio. Kami melaju kencang, 120 km/jam di Jalan Pahlawan. Saya di depan, Toni di belakang. Tiba-tiba, angkot di depan kami berhenti mendadak. Saya banting kemudi ke kanan, ternyata di depan ada mobil pick up yang melaju. Kami menabrak pick up, mental 5 meter dan terguling-guling. Karena musibah itu, saya beristirahat di rumah sakit selama sebulan. Toni lebih parah lagi, dua bulan lamanya dia harus di rumah sakit dan memakai kruk kaki. Sejak itu saya bersumpah akan lebih berhati-hati saat di jalan raya, bukan saja karena 80% dari 17.000 kecelakaan melibatkan sepeda motor, tetapi pengalaman saya menceritakan betapa tidak enaknya menderita karena kecelakaan di jalan raya....”

Gagasan mana yang lebih kuat diterima oleh audiens? Gagasan yang disampaikan oleh Pembicara A atau Pembicara B? Gagasan Pembicara B, bukan? Mengapa? Karena Pembicara B memasukkan kisah pribadi di dalam presentasinya. Kisah pribadi yang disampaikan menjadi fakta dan informasi baru sekaligus melibatkan emosi di dalamnya.

Pembicara B melengkapi kisah pribadinya dengan detail yang cukup banyak, seperti lokasi ( di Jalan Pahlawan ), kecepatan yang ditempuh ( 120 km/jam ), pemeran utama ( Pembicara B ) dan pemeran pendukung ( Toni, angkot dan pick up ).

Kedua, tonjolkan ketegangan, drama, atau konflik dalam kisah pribadi Anda. Jangan sampai kisah pribadi Anda berbelok menjadi ceramah yang menjemukan atau berhenti menjadi sebuah kenangan saja.

Dalam contoh di atas, Pembicara B menonjolkan ketegangan dengan kalimat-kalimat : ”melaju kencang”, ”tiba-tiba....”, ”...banting kemudi...”, dan ”terguling-guling...”

Ketiga, kaitkan kisah pribadi Anda dengan tema presentasi atau keseluruhan pesan yang hendak Anda sampaikan.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.