^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Tumbuh dan Berbuah

Kalau Anda ditanya, “Bagaimana Anda memandang kehidupan ?” Apa jawaban Anda ?

Beberapa teman mengatakan “hidup adalah perjuangan”. Mereka menghayati setiap jengkal pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dalam kehidupan sebagai fase-fase perjuangan. Untuk bisa hidup lebih baik, kita perlu berjuang mati-matian. Begitu ujar mereka.

Teman yang lain melihat “hidup adalah keindahan”. Di setiap sisi kehidupan yang

mereka jalani, mereka dapat mencari dan menggali keindahan-keindahan yang ada. Bahkan, di saat orang lain melihat sisi gelap sebuah kehidupan, mereka yang bersemboyan “hidup itu indah” dapat melirik sudut pandang yang berbeda untuk menemukan keindahan di balik sisi gelap tersebut.

Ekstrem dari yang sebelumnya, beberapa orang ada yang mengatakan “hidup adalah penderitaan”. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang berbau tentang penderitaan saat bicara tentang kehidupan. Di satu sisi, orang yang menganut nilai hidup adalah penderitaan bisa menjadi orang yang tegar dan selalu bangkit di setiap kegagalan. Namun di sisi lain, dengan nilai ini orang bisa jadi hanya melihat sisi-sisi gelap dari kehidupan, apapun bentuknya.

Tentu, tidak ada yang salah dengan semua pandangan di atas. Setiap orang melihat melalui kacamata melalui sudut pandangnya sendiri-sendiri, bisa jadi berdasarkan pengalaman, imajinasi, atau informasi yang dia terima.

Saya pun merenung cukup dalam bila mendapat pertanyaan di atas. Tentu, dengan tetap rileks dan nyaman ( karena merenung sebenarnya adalah kegiatan yang ringan-ringan saja ), saya mengunyah jawaban-jawaban yang muncul dari pikiran saya. Tidak mudah memang untuk menjawabnya.

Anyway, beberapa tahun terakhir saya lebih memilih untuk memandang hidup sebagai sebuah pertumbuhan. Yah, hidup itu tumbuh. Kita semua, saya dan Anda, termasuk juga orang lain dan semua mahluk hidup yang lain, kodratnya adalah tumbuh. Binatang lahir, kecil, tumbuh besar, dewasa, kemudian menjadi tua. Pepohonan juga  tumbuh, mulai dari kecil, menjadi tinggi, juga besar. Manusia juga seperti itu.

Lho, tapi setelah dewasa, tua, kemudian khan mati ? Begitu mungkin yang Anda pikir.

Anda tidak salah. Dan mari kita letakkan kematian sebagai sesuatu yang menjadi misteri dari Sang Pencipta. Sebagai manusia, tanggung jawab kita adalah tumbuh, dari kecil menjadi besar, dari anak-anak menjadi dewasa, dari menghidupi diri sendiri menjadi berbuah menghidupi orang lain. Sekali lagi, tugas kita sebagai manusia adalah tumbuh. Sesederhana itu.

Cukup mengherankan, beberapa orang merasa bahwa hidupnya sudah “selesai” saat dia berusia 55 tahun. Hanya karena usia pensiun di perusahaannya adalah 55 tahun, dia sudah “menghentikan” langkahnya dalam hidup. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dalam sisanya hidupnya, kalau misalnya dia masih dianugerahi hidup hingga usia 75 tahun. Berarti 20 tahun  sisa hidupnya dia tidak lagi tumbuh dan berbuah. Dengan kata lain, dia tidak lagi “hidup”.

Yang lain merasa hidupnya sudah “finish” saat sudah menduduki posisi direktur atau kepala cabang. Yang lain lagi melihat tidak ada lagi sesuatu yang bisa dikerjakan setelah dirinya mencapai prestasi tertentu. Ibaratnya, mereka menyatakan dirinya selesai dengan perlombaan padahal perlombaan belum selesai. Mereka membuat “garis finish” sendiri yang berbeda dengan garis finish yang sebenarnya. 

Di dunia olahraga, khususnya lari jarak jauh, 10 km atau 21 km atau bahkan lari marathon 42 km, para pelari yang tidak menyelesaikan garis finish dan berhenti di tengah jalan, akan didiskualifikasi dari lomba. Mereka tidak akan dicatat sebagai peserta yang dapat menyelesaikan perlombaan. Nama mereka “hilang” dari daftar peserta.

Anda tentu tidak ingin nama Anda “hilang” dalam catatan alam semesta, bukan ?

Ada konsekuensi yang lebih mengerikan dari “hilang” atau “tidak tercatat” bagi mereka yang membuat garis finish sendiri terlalu awal. Yaitu mereka sudah menuliskan hari “kematian”nya sendiri. Mereka sudah “mati” di hari ini, padahal fisiknya masih segar bugar dan bisa jadi baru 20 atau 30 tahun kemudian hari kematian yang sebenarnya mendatanginya. 

Meski pemahamannya sedemikian sederhana, pada prakteknya agar bisa tumbuh dan berbuah, kita menghadapi aneka macam tantangan. Pohon yang ingin tumbuh besar saja mengalami banyak tantangan, mulai dari hujan, kekeringan, tanah yang gersang, hama, manusia yang merusaknya, dan lain sebagainya.  Pertumbuhan kita juga menghadapi banyak tantangan. Salah mengelola tantangan, bukan saja kita tidak tumbuh, bisa jadi kita membonsai diri sendiri, bahkan membuat diri sendiri terlalu cepat layu dan mati.  

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.