^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Personal Mastery

Saya pernah mengalami sebuah peristiwa yang kurang menyenangkan bagi diri saya sendiri. Padahal, saat itu teman-teman saya mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang sangat beruntung. Saat masih bekerja di salah satu perusahaan, ketika diminta oleh pihak manajemen untuk menduduki jabatan managerial menggantikan atasan saya, sebut saja namanya Yonas, awalnya saya merasakan kegembiraan. Betapa tidak, saya melompati beberapa orang senior untuk menduduki jabatan tersebut. Dan saya membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan orang lain pada umumnya.

Namun kemudian, kegembiraan itu tidak lama. Saya pun mengalami beberapa kali kegamangan. Muncul di pikiran saya, bisa nggak ya saya menggantikan Yonas dengan segala kehebatan yang dia miliki ?

Mampu nggak ya saya mempunyai prestasi sebaik Yonas dalam dua tahun ke depan ? Memberikan begitu banyak kontribusi kepada perusahaan dan orang-orang di sekitarnya ?

Lebih lagi, saya pandang Yonas mempunyai banyak sekali strength point dibandingkan diri saya. Tambah bingung saya menjawab semua pertanyaan di atas. Hingga suatu ketika, saya mendapatkan pemahaman yang hebat yang pada akhirnya mengubah keseluruhan langkah hidup saya. Sebuah gagasan sederhana yang membuat saya mampu menikmati kehidupan saya berpuluh kali lipat lebih baik lagi.

Saya mendapatkan dua pemahaman. Pemahaman pertama : Jangankan 2 tahun ke depan, sampai 5 tahun bahkan 10 tahun ke depan pun saya tidak mungkin menyamai eksistensi seorang Yonas.  Bahkan kalau mau diperpanjang lagi, sampai kapan pun saya tidak mungkin menjadi pribadi yang sama persis seperti dia.

Pemahaman kedua, dan ini yang membuat hidup saya sungguh berubah : Saya tidak perlu menjadi seorang Yonas dalam 2 tahun lagi, atau 5 tahun lagi, atau 10 tahun, dan sampai kapan pun. Saya tidak perlu menjadi seorang Yonas untuk bisa berkontribusi bagi perusahaan dan orang-orang di sekitar saya. Saya hanya perlu menjadi diri sendiri, menjadi seorang Indra Dewanto, dan dengan menjadi diri sendiri saya bisa memberikan kontribusi tak kalah banyaknya, bahkan dalam hal-hal tertentu bisa jadi lebih banyak, dibandingkan Yonas. 

Saya bisa berkontribusi bagi orang lain dengan cara saya sendiri, dengan metode saya sendiri, dan dengan menjadi diri saya sendiri.

Bila kontribusi itu diibaratkan sebagai puncak tertinggi di Gunung Everest, saya memahami bahwa puncak tertinggi tersebut bisa dicapai dari jalur-jalur yang berbeda. Tidaklah menjadi sebuah keharusan bahwa saya hanya bisa mendaki puncak tertinggi dari satu jalur tertentu saja. Saya boleh memilih jalur saya sendiri, partner saya dalam mendaki, dan kapan waktu pendakiannya.

Di cerita klasik yang menggambarkan kehidupan murid-murid di biara Shaolin, dalam usaha mendapatkan ketrampilan olah fisik yang mumpuni, di tingkat terakhir murid-murid dibebaskan untuk memilih sendiri cara berlatih dan metode yang mereka sukai. Guru-guru Shaolin sangat memahami bahwa setiap muridnya mempunyai karakter dan kepribadian sendiri yang berbeda-beda. Mereka pun punya ekspresi yang berbeda untuk menjadi seorang murid Shaolin yang hebat.

Peter Buffet, putra miliuner, investor, sekaligus orang terkaya di dunia ini, Warren Buffet, mengatakan satu-satunya warisan yang diberikan oleh orang tuanya adalah sebuah filosofi : temukanlah jalan hidupmu sendiri. Kredo ini yang membuat Peter Buffet mengikuti hasratnya sendiri, menciptakan identitasnya sendiri, dan mencapai kesuksesan sendiri. Peter Buffet memilih menjadi komposer, musisi, dan filantropis.

Kalau begitu, hidup ini sebenarnya jalan untuk menjadi diri sendiri ya ?

Betul sekali. Dengan catatan : Menjadi diri sendiri dalam versi yang terbaik !

Lho, apa maksudnya ?

Di luar sana banyak sekali orang yang mengartikan menjadi diri sendiri berarti menjadi pribadi yang seenaknya, tidak mau diatur, dan cenderung menganggu lingkungan sekitarnya.

Mereka khan menjadi diri sendiri ?

Mungkin iya. Tetapi kalau demikian caranya berarti menjadi diri sendiri yang abal-abal. Yang KW. Tidak genuine. Tidak orisinil.

Di dunia bisnis, apapun jenis bisnisnya, Anda sangat memahami kalau yang abal-abal dan  KW, nilainya jauh lebih rendah daripada yang genuine. Daripada yang orisinil. Yang mahal dan dinilai tinggi adalah yang genuine. Yang asli. Yang orisinil.

Saat Anda memutuskan untuk menjadi pribadi yang genuine, yang otentik, yang orisinil, menjadi diri Anda dalam versi yang terbaik, dan saya yakin Anda memutuskan hal itu, maka dunia akan memberikan nilai dan harga tinggi kepada diri Anda dan kehidupan yang Anda miliki. 

Become truly you, menjadi diri Anda yang sejati, membuat dunia menoleh kepada Anda dan kepada semua hal yang Anda kerjakan.

Kalau begitu, bila saya ingin menjadi diri saya yang sesungguhnya, saya tidak butuh orang lain dong ?

Naah....di sini ternyata serunya.

Saat kita memilih untuk menjadi diri sendiri, kita justru membutuhkan banyak sekali sparring-partner dan guru di dunia ini. Seorang pendekar Shaolin hanya bisa menjadi pendekar yang hebat dan menemukan jurus andalan bila sudah turun gunung, mengelilingi dunia, bertemu dengan banyak sekali pendekar lain dan beradu ilmu dengan mereka.  Tanpa bersentuhan dengan banyak orang dan berjumpa dengan bermacam-macam tantangan, dia hanya menjadi pribadi yang seolah-olah pendekar. Belum menjadi pendekar yang sesungguhnya.

Menjadi diri sendiri yang terbaik, seperti halnya menjadi seorang pendekar, tidak dapat terjadi dalam satu malam. Hal itu membutuhkan waktu yang panjang. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan seumur hidup kita. Bagaimanapun, menjadi diri sendiri merupakan sebuah petualangan yang mengasyikkan, menyenangkan, dan menggairahkan

Di tahapan inilah personal mastery terjadi.

Tahapan untuk menjadi diri sendiri dalam versi yang terbaik. Tahapan untuk terus tumbuh dan berkembang. Tahapan untuk terus berkontribusi bagi dunia.

 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.