^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Personal Mastery (2)

Dalam buku “Wake Up Call”, terbitan Gramedia Pustaka Utama, saya mengungkapkan bahwa tugas kita adalah menjadi mahakarya bagi dunia. Bukan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Tetapi menjadi mahakarya bagi dunia.

Mahakarya bukan saja Tembok Besar China, Menara Eiffel Paris, atau Menara Pisa Italia. Mahakarya juga bukan saja lukisan, patung, atau benda seni lainnya. Mahakarya adalah Anda sendiri dengan semua kehidupan yang Anda miliki.

Ungkapan dan teriakan “dahsyat”, “hebat”, “luar biasa”, dan semacamnya, sepantasnya tidak saja menggema dalam ruang-ruang pelatihan dan sesi motivasi saja, tetapi menggema dalam kehidupan pribadi yang Anda miliki. Bukan saja dalam hidup Anda di hari ini, melainkan juga hidup Anda di masa depan dan selamanya. Selama hayat masih dikandung badan, tugas kitalah untuk menginternalisasi ungkapan “dahsyat”,

“hebat”, dan “luar biasa” tadi dalam kehidupan kita sehari-hari.   

Personal mastery bukanlah sebuah tujuan atau tempat tertentu. Personal mastery adalah sebuah perjalanan. Sebuah life-long journey. Perjalanan panjang di masing-masing kehidupan kita. Personal mastery, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, menjadi sebuah tugas dan tantangan bagi setiap orang. Personal mastery membutuhkan disiplin kuat dari seseorang untuk dapat menjalaninya.

Peter M. Senge, dalam bukunya “The Fifth Discipline”, menguraikan bahwa personal mastery adalah disiplin yang berkelanjutan untuk mempertajam visi pribadi seseorang, mengembangkan daya tahan terhadap kehidupan dan kemampuan untuk melihat kenyataan yang ada.

Uraian dari Senge menyiratkan bahwa kita membutuhkan komitmen, kesungguh-sungguhan, dan motivasi untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan yang ada. Tentu saja, hal ini membutuhkan kejujuran dalam melihat kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta mengelola kedua hal tersebut dalam aktifitas sehari-hari.

Personal mastery bukanlah keahlian atau kompetensi di bidang tertentu. Personal mastery lebih menekankan pada bagaimana seseorang memandang kehidupannya dengan lebih kreatif, memahami panggilan hidupnya, dan memantapkan niat untuk berkontribusi bagi dunia.

Personal mastery setidaknya mengandung empat hal berikut :

  • Kesadaran diri
  • Visi atau gol pribadi
  • Kontribusi kepada orang lain
  • Work-life balance

Kesadaran Diri

Perjalanan panjang tentunya membutuhkan banyak sekali bekal. Demikian juga dengan perjalanan personal mastery yang sedang dan akan Anda geluti. Bekal awal yang sangat penting adalah adanya kesadaran diri. Kesadaran diri membuat Anda dapat memahami siapa diri Anda yang sebenarnya. Peran apa yang Anda mainkan dalam kehidupan ini, tanggung jawab Anda, dan panggilan yang Anda miliki di dunia ini.

Untuk bisa memahami hal itu, Anda perlu memahami karakter dan kepribadian Anda, keyakinan yang Anda miliki, nilai-nilai Anda, pilihan-pilihan dan keputusan yang Anda buat dalam kehidupan. Pada prakteknya, kesadaran ini perlu terus berulang kali “ditemukan” dalam hidup kita. Seperti halnya kehidupan yang terus berubah, kesadaran diri yang kita miliki pun dapat terus berubah.

Banyak teori mengatakan selewat umur 40 tahun, harusnya manusia tidak perlu lagi bingung atau galau akan perannya di dunia ini. Diasumsikan bahwa di usia tersebut, seseorang sudah sangat memahami dirinya sendiri. Sebenarnya Anda tidak perlu menunggu usia 40 tahun untuk memikirkan kehidupan Anda. Sebaliknya, setelah umur 40 tahun Anda pun masih diminta untuk terus-menerus menemukan dan menjadi diri Anda dalam versi yang paling baik.

Bab-bab selanjutnya dalam buku ini akan berisi serangkaian latihan yang akan memandu Anda untuk menemukan kesadaran dalam diri Anda. Meski demikian, bukan saya yang akan menemukan kesadaran diri Anda, melainkan diri Anda sendirilah yang akan menemukannya.

Tragedi hidup yang paling mengerikan di dunia ini terjadi saat Anda tidak memahami sepenuhnya hidup yang Anda miliki. Tragedi terjadi saat hidup Anda mengalir begitu saja tanpa Anda ketahui kemana aliran airnya menuju. Saya setuju dengan perkataan Socrates, filsuf Yunani kuno, yang mengatakan : hidup yang tidak dihayati, tidak layak untuk dijalani.

Ngomong-ngomong, siapa lagi yang akan memikirkan kehidupan Anda kalau bukan Anda sendiri ?

Visi atau Gol Pribadi

Dulu, saya beranggapan bahwa pertanyaan mengenai visi atau gol pribadi lebih tepat kalau ditanyakan kepada mereka yang berusia muda, sekitar umur 20-an atau 30-an. Kalau sudah berusia 40-an atau 50-an atau lebih, rasanya mereka sudah sangat memahami visi atau gol pribadinya. Ternyata, anggapan tersebut salah besar !

Di luar sana banyak sekali orang, berapapun usianya, tidak memahami atau bahkan tidak mempunyai visi atau gol pribadi. Mereka hidup sekedar hidup saja. Jam enam pagi bangun, kemudian berangkat kerja, jam lima sore pulang kerja, jam tujuh malam sampai rumah, istirahat, tidur, dan seterusnya. Besok lagi agendanya akan seperti itu. Besoknya lagi akan seperti itu lagi dan seterusnya.

Tidak ada visi atau gol pribadi yang memandu hidup mereka. Tidak ada bintang utara yang menjadi pedoman hidup mereka.

Saya yakin 100%, Anda bukanlah orang seperti mereka. Anda berbeda dengan mereka.

Personal mastery berbicara tentang ke mana Anda ingin pergi dan bagaimana Anda akan mencapainya. Personal mastery mengajarkan kita untuk tidak menurunkan visi kita, meskipun tantangan yang menghadang di depan sedemikian besarnya.

Ibaratnya seorang pelaut yang mengemudikan kapalnya dan dihempas badai berulang kali, visi yang dipegang teguh membuat pelaut tersebut tetap percaya diri mengarungi samudra. Tanpa visi yang jelas, laut yang tenang pun akan menjadi badai yang mematikan bagi seorang pelaut. Dia akan terombang-ambing di samudra tanpa arah yang jelas.

Tanpa kita sadari, sering kali yang lebih penting dari sebuah visi bukanlah isinya, melainkan bagaimana visi itu memandu dan bekerja dalam hidup kita. Banyak cerita tentang seseorang yang mempunyai visi besar dan mampu melakukan hal-hal luar biasa dalam hidupnya. Columbus misalnya. Meski “gagal” mencapai gol pribadinya yaitu menemukan benua India, dia menemukan hal lain dalam hidupnya yaitu menemukan benua Amerika. Corry Aquino, yang awalnya bercita-cita ingin menjadi ibu rumah tangga biasa, akhirnya mampu menggulingkan diktator Marcos dan menapaki jalan sebagai presiden perempuan Filipina yang pertama. 

Kontribusi kepada Orang Lain

Dalam riset yang dilakukannya, Martin Seligman, pelopor psikologi positif, mengungkapkan ada tiga hal yang membuat seseorang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah : benda-benda yang kita beli, pengalaman yang kita dapatkan, dan kontribusi sosial yang kita lakukan.

Seligman mengatakan belanja atau membeli barang-barang tertentu, seperti busana, tas, perhiasan, mobil, atau rumah, memang mendatangkan kebahagiaan. Namun durasi kebahagiannya hanya sebentar saja bila dibandingkan pengalaman tertentu yang kita dapatkan. Pengalaman liburan ke luar negeri, menikmati pemandangan, atau melihat sunset, mempunyai durasi kebahagiaan yang lebih tinggi daripada membeli atau belanja barang-barang mewah sekalipun. 

Dan yang durasi kebahagiannya paling tinggi adalah saat Anda melakukan kontribusi sosial kepada orang lain seperti membangun taman bacaan di daerah terpencil, memberikan donasi kepada panti asuhan, mengunjungi orang jompo, menengok orang sakit, dan lain sebagainya.

Dalam personal mastery, kontribusi kepada orang lain, apapun bentuknya, menjadi unsur pembentuknya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari hakekat seorang manusia. Manusia adalah mahluk sosial. Dia tidak dapat dilepaskan dari orang lain. Bahkan, dia tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawabnya untuk berkontribusi bagi hidup orang lain.

Anthony Robbins, penulis buku “Awaken The Giant Within” dan “Unlimited Power”, dalam salah satu seminarnya yang saya ikuti mengatakan hanya mereka yang telah mempelajari kekuatan kontribusi tulus yang mengalami kebahagiaan penuh dalam hidupnya.

Sering kali, kita merasakan diri sendiri sebagai orang biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kita melihat banyak sekali hambatan yang ada dalam diri kita untuk berkontribusi. Faktanya, tokoh-tokoh besar di dunia pun mempunyai banyak hambatan seperti kita. Bedanya, mereka lebih berfokus pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan yang akan terjadi saat mereka berkontribusi sepenuhnya.

Mahatma Gandhi, awalnya juga berjuang seorang diri bagi kemerdekaan India. Sudah tidak muda lagi, bertubuh ringkih karena puasa yang dijalaninya, bukan pembesar atau pejabat negara, akhirnya mampu membuat 150 juta rakyat India mengikuti langkahnya dan mengusir Inggris dari bumi India.

Kira-kira, dengan cara apa saja Anda mempunyai kemungkinan besar untuk bisa berkontribusi lebih banyak lagi bagi orang-orang di sekitar Anda ?

Work-life Balance

Personal mastery meminta Anda untuk mempunyai work-life balance atau keseimbangan hidup.

Dalam hidup ini, kita mempunyai banyak peran dan tanggung jawab. Masing-masing bisa jadi saling bersinggungan satu sama lain. Ada peran sebagai seorang ayah, suami, karyawan, maupun atasan. Ada tanggung jawab untuk kehidupan pribadi maupun profesional. Semua hal tersebut butuh berjalan selaras dan seimbang.

Beberapa orang merasa skeptis dengan pengertian work-life balance atau keseimbangan hidup. Mereka mengatakan tidak ada yang namanya keseimbangan hidup. Mereka hanya memandang hidup ini dalam satu dimensi. Padahal, hidup ini berdimensi sangat banyak. Terbelit dan terjebak dalam satu dimensi kehidupan membuat diri Anda bukan saja frustasi tetapi juga merasa diri tidak mampu berkembang lagi.  

Work-life balance dapat dilihat sebagai sebuah roda kehidupan dengan masing-masing dimensi atau segmen kehidupan di dalamnya. Agar dapat terus berputar, roda itu membutuhkan dirinya tetap berbentuk bundar. Masing-masing dimensi atau segmen kehidupan yang kita miliki membuat roda kehidupan kita tetap berbentuk bundar. Kehilangan satu segmen saja akan membuat roda tersebut tidak berbentuk sebagai roda. Bila roda sudah kehilangan bentuknya, akibatnya hidup kita menjadi terhambat dan kita tidak melaju kencang dalam hidup ini.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.