^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

KEPUTUSAN : PENGUBAH JALAN HIDUP ( 2 )

Kekuatan Keputusan

Di awal tahun, saya telah membuat sekian banyak resolusi dan keputusan, mengapa di akhir tahun ini saya tidak mendapatkan apa-apa ?

Banyak sekali orang yang menyampaikan keluhan seperti di atas. Di awal tahun membuat banyak sekali keputusan namun di akhir tahun tidak mendapatkan apa pun. Seolah-olah, semua keputusan yang diambil menjadi sia-sia belaka.

Sebenarnya, keputusan bukanlah sekedar keinginan-keinginan sesaat. Keputusan tidaklah harapan-harapan semu yang muncul di kepala kita. Keputusan jauh lebih besar daripada hal itu. Keputusan memancarkan

kekuatan, kesungguh-sungguhan, keyakinan, dan komitmen pasti dari diri kita. Maka, bila keputusan yang Anda ambil belum mencerminkan kekuatan, kesungguh-sungguhan, keyakinan, dan komitmen pasti, itu bukanlah keputusan Anda yang “sebenarnya”.

Saat Anda memutuskan ingin mempunyai tubuh yang lebih langsing di tahun ini, tetapi Anda sendiri ragu-ragu akan hal itu, maka itu belum menjadi sebuah keputusan. Ketika Anda memutuskan untuk lebih banyak menabung, tetapi di kepala Anda masih terbersit pikiran “bisa nggak ya”, maka hal itu belum menjadi keputusan. Saat Anda ingin menulis buku, dan Anda menambahkan kalimat “kalau ada waktu”, maka Anda belum benar-benar membuat keputusan. Ketika Anda ingin mempunyai bisnis baru, tetapi diri Anda diliputi banyak ketakutan dan kecemasan, itu juga belum menjadi sebuah keputusan.

 

Keputusan Perlu Selalu Diakses

Keputusan bukan sebuah rasa tertarik saja. Keputusan adalah hal-hal yang benar-benar kita inginkan, dengan alasan-alasan tertentu yang kuat, bersifat sangat pribadi dan tidak tergantung situasi yang ada, dan terselip komitmen kuat untuk menjalankannya.

Kekuatan keputusan akan muncul dan mengakar saat kita sering kali mengakses keputusan yang sudah kita tetapkan untuk periode tertentu. Dengan kita sering mengingat keputusan tersebut, kita seolah-olah membuat keputusan tersebut muncul berulang kali di pikiran kita.

Saat saya memutuskan untuk mulai tidak makan daging di bulan September 2015, maka saya sering kali mengambil keputusan yang sama ketika godaan untuk makan daging itu muncul. Ketika di sebuah acara pelatihan makan siangnya menghidangkan ayam panggang berbau harum, saya menanamkan kembali keputusan di pikiran “saya memutuskan untuk sehat, dan saya memilih makanan yang lebih sehat bagi diri saya”. Ketika  menghadiri wedding party dengan banyak sekali menu daging di sekitar saya, kembali keputusan itu saya ambil dan tekankan.

Tentu, kalau untuk urusan memilih makanan sebuah keputusan terus “diambil” dan diakses kembali, untuk hal-hal yang lebih besar dan menantang hal serupa perlu dilakukan juga. Keputusan Anda untuk memulai bisnis yang baru, misalnya. Akan selalu ada tantangang-tantangan yang menghadang di depan. Maka, keputusan yang sudah Anda buat perlu ditekankan kembali.   

 

Keputusan Berbuah Komitmen Total

Keputusan yang kita buat idealnya berbuah sebagai sebagai komitmen total.

Memang, dalam kehidupan sehari-hari orang kerap menyalahartikan kata “komitmen”. Mereka bermain seenaknya dengan komitmen. Dalam hal komitmen, ada tiga macam aturan yang dipegang oleh setiap orang :

  • Aturan pertama, “saya melakukannya untuk....”
  • Aturan kedua, “saya melakukannya karena....”
  • Aturan ketiga, “saya melakukannya meskipun....”

Orang yang punya aturan “saya melakukannya untuk...”, cenderung mengarahkan perilaku kepada hal-hal di luar dirinya, seperti : saya melakukannya untuk perusahaan, untuk atasan saya, untuk keluarga saya, dll. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Boleh-boleh saja orang berkomitmen dengan aturan seperti itu.

Orang yang punya aturan “saya melakukannya karena...”, bisa jadi melakukan sesuatu karena hal-hal dari luar dirinya, seperti : saya melakukannya karena disuruh atasan saya, karena keinginan customer saya, karena situasi membuat saya demikian. Bisa juga, mereka melakukan sesuatu karena hal-hal dari dalam dirinya : saya melakukannya karena saya menginginkan hal itu, karena itu menjadi komitmen saya, dsb. Orang yang menjalankan aturan kedua ini, punya komitmen yang lebih tinggi daripada orang yang memegang aturan pertama.

Orang yang punya aturan “saya melakukannya meskipun...”, dipandu oleh nilai-nilai dan keyakinan tertentu, dan tidak tergantung kepada situasi eksternal di luar dirinya. Apapun situasi yang dihadapinya, dia akan tetap melakukan hal yang sudah menjadi keputusannya. Saya melakukan hal ini meskipun situasinya tidak mudah bagi saya, saya bekerja keras meskipun perusahaan belum terlalu menghargai diri saya, saya memenuhi janji saya kepada customer meskipun mereka pernah meremehkan saya, dll.

Orang-orang yang memegang aturan ketiga inilah yang menghasilkan keputusan yang berbuah komitmen total. Saya yakin sepenuhnya, Anda semua adalah orang-orang seperti ini.

 

Keputusan Dinilai dari Tindakan

Sering kali, kita jengkel saat mendengar seorang pejabat yang sudah mengucapkan sumpah jabatan dan menyebar iklan untuk tidak korupsi, pada akhirnya tertangkap tangan melakukan korupsi. Kita menilai pejabat tersebut tidak sungguh-sungguh dengan sumpah yang sudah diucapkannya.

Dalam konteks yang berbeda, beberapa orang juga sering melanggar sumpah, janji, resolusi, atau keputusan yang sudah dibuatnya di masa lalu. Enteng saja mereka mengingkari semua hal yang sudah mereka katakan.

Orang sering dibutakan dengan kata-kata indah yang diucapkan ketika seseorang memutuskan sesuatu, entah dalam bentuk sumpah, janji, resolusi, atau apapun namanya. Mereka lupa, bahwa nilai dari sebuah keputusan diukur dari tindakan yang sudah dijalankan.

Kalau seseorang memutuskan untuk mempunyai badan yang lebih sehat dan bugar, tetapi dia tidak pernah berolahraga, mengatur makanan, dan istirahat secara tepat, maka tindakan yang dilakukannya tidak sejalan dengan keputusan yang sudah diambil. Dengan kata lain, keputusannya belumlah menjadi keputusan yang utuh. Belum menjadi keputusan yang sungguh-sungguh.

Keputusan perlu diikuti tindakan yang jelas. Tanpa adanya suatu tindakan yang konkrit, keputusan kita hanya terhenti di tengah jalan dan tidak akan menuju kemana-mana.

 

Keputusan Memerlukan Konsistensi

Mengingat bahwa keputusan berbuah dari komitmen total dan dinilai dari tindakan yang dilakukan, maka keputusan yang Anda buat memerlukan konsistensi. Setidaknya, dalam jangka waktu tertentu, keputusan tersebut perlu konsisten dan tidak berubah-ubah.

Kalau hari ini Anda memutuskan untuk mempelajari olahraga beladiri karate,  minggu berikutnya Anda memutuskan belajar pencak silat,  dan minggu depannya lagi Anda memutuskan untuk belajar tae kwon do, tentu saja keputusan Anda akan menjadi keputusan yang sia-sia saja.

Ketika hari ini Anda memutuskan untuk memulai bisnis kuliner, bulan depannya Anda memutuskan untuk masuk ke bisnis fashion, dan bulan depannya lagi Anda memutuskan untuk berbisnis alat berat, keputusan Anda menjadi keputusan yang setengah-setengah dan tidak jelas.

Berarti nggak boleh ya saya mengambil beberapa keputusan sekaligus ?

Boleh-boleh saja. Sejauh Anda punya sumber daya yang cukup untuk menindaklanjuti semua keputusan tersebut. Intinya bukan pada banyak sedikitnya keputusan yang Anda ambil, tetapi bagaimana keputusan yang Anda ambil sudah berbuah dengan komitmen dan diikuti tindakan yang jelas.

Karena kalau keputusan Anda tidak berlanjut dengan komitmen dan tindakan, keputusan Anda hanya menjadi kata-kata atau uraian tulisan kosong belaka.

Daripada nyinyir dan bolak-balik menyindir oknum pejabat yang tidak menjalankan keputusan yang sudah dia buat, lebih baik mulai hari ini kita nyinyir kepada diri sendiri dan semua keputusan yang sudah kita buat. Selanjutnya, kita jalankan komitmen total dan tindakan untuk menguatkan keputusan kita. 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.