^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

KEKUATAN KATA-KATA

Apakah Anda setuju dengan ungkapan “meski indah, mawar adalah bunga yang banyak durinya” ?

Atau, Anda lebih setuju dengan ungkapan “meski banyak durinya, mawar adalah bunga yang indah ?

Ungkapan mana yang lebih Anda setujui ?

Beberapa orang setuju dengan ungkapan yang pertama, sementara yang lain lebih setuju dengan ungkapan yang kedua. Mereka yang setuju dengan ungkapan pertama, bisa jadi lebih memilih untuk melihat “duri” saat mereka memikirkan mawar. Adapun yang setuju dengan ungkapan kedua, kemungkinan besar lebih memilih untuk melihat “indah” saat mereka memikirkan mawar.

Sama-sama kita pahami bahwa persepsi kita akan sesuatu hal, akan menentukan kondisi emosi kita,

dan pada akhirnya akan menentukan tindakan kita. Maka mereka yang melihat “duri” di dalam pikirannya,akan berhat -hati atau bahkan menghindari bunga mawar. Dan mereka yang meilhat “indah” di dalam pikirannya, cenderung akan menantikan atau mencari-cari bunga mawar.

Bila saya mengingat kembali pengalaman saat remaja, teman-teman cowok yang sering gagal menjalin relasi dengan lawan jenis adalah mereka yang setuju dengan ungkapan “anaknya cantik sih, tetapi bapaknya galak”. Sementara mereka yang lebih sering berhasil adalah yang setuju dengan ungkapan “bapaknya galak sih, tetapi anaknya cantik”. Terlihat sekali perbedaan nasib di antara mereka yang fokus kepada “anak yang cantik” dan “bapak yang galak”....hehehe.

Mungkin, ada di antara Anda yang berpikir, “Itu kan cuma permainan kata-kata....”

Betul sekali. Justru di situlah poin utamanya.

Saat kita bermain dengan kata-kata, sebenarnya kita sedang bermain dengan pikiran kita. Kata-kata kita adalah “wakil” dari pikiran kita. Kata-kata kita adalah “simbol” dari pikiran kita. Kata-kata kita menunjukkan hal yang sebenarnya ada di pikiran kita.

Di kelas-kelas pelatihan public speaking atau “High Impact Presentation” yang saya fasilitasi, sering sekali peserta pelatihan mengatakan, “Saya tahu pikiran saya, Pak, tetapi saya tidak bisa mengatakannya...”,  “Saya mengerti hal itu, tetapi saya tidak bisa ngomong...”, dan kalimat-kalimat semacamnya.

Saat seseorang tidak bisa mengatakan hal-hal yang ada di pikirannya, artinya dia tidak atau belum menemukan kata-kata yang tepat yang bisa mewakili pikirannya. Yang dilihat oleh audiens atau teman bicaranya, orang tersebut tiba-tiba menjadi bisu atau gagu. Dia tidak bisa menyampaikan ide atau gagasannya.

Sering juga beberapa orang mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat, yang sebenarnya tidak mereka inginkan akibatnya. Dalam hubungan atau relasi sosial, sering keluar kata-kata yang “salah” yang mengakibatkan salah satu pihak menjadi tersinggung, kecewa, atau marah. Ketika teman bicara kita menyampaikan ucapan kita yang tidak tepat, kita akan menyesali kata-kata yang kita ucapkan dan meminta maaf kepadanya.

Yang menarik, kita sering tidak menyadari bila perkataan tertentu akan menjerumuskan hidup kita sendiri. Dan ini dapat terjadi saat kita melakukan self-talk atau percakapan pribadi dengan diri sendiri.

Apa itu self-talk ?

Buat Anda yang belum memahami self-talk atau kurang menyadarinya, berhentilah sejenak membaca uraian ini, dan mulailah pikirkan apa yang saat ini Anda pikirkan. Mungkin, saat ini Anda memikirkan “maksud tulisan ini apa sih”, atau Anda memikirkan latar belakang saya sebagai penulis buku ini, atau Anda sedang memikirkan pekerjaan Anda di tengah-tengah Anda membaca tulisan ini, atau apapun itu.

Nah, itulah yang disebut self-talk.   

Dan setiap saat, sepanjang Anda berpikir, dari sejak bangun pagi, bekerja, bertemu orang, hingga malam hari, Anda melakukaan self-talk.

Bila Anda menyampaikan kata-kata yang salah di depan orang lain, Anda punya partner atau teman bicara yang bisa mengoreksi kata-kata Anda. Namun bila Anda melakukan self-talk, Anda tidak punya partner yang bisa mengoreksi kata-kata Anda. Andalah pencetus kata-katanya, Anda juga yang akan menjadi partner bagi diri Anda sendiri. Saat Anda tidak bisa menjadi partner yang baik, Anda akan menanggung resiko dari kata-kata yang Anda ucapkan.

Kata-kata Sebagai Senjata

Di panggung politik, politikus dan para pemimpin negara menggunakan kekuatan kata-kata sebagai senjata mereka. Mereka menggunakan kata-kata untuk mempengaruhi orang lain, mengaduk emosi orang lain, menanamkan rasa percaya diri, sekaligus mengungkapkan keyakinan pribadi mereka. Bung Karno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, saat menyampaikan idenya untuk menolak imperialisme dan kolonialisme, mengatakan, ”Bila lembu Andini dari India bertemu dengan Gajah Putih dari Thailand dan bersatu dengan banteng-banteng Indonesia, maka imperialisme dan kolonialisme di muka bumi ini akan musnah...”.  Bung Karno dikenal lihai dalam menyampaikan orasinya melalui berbagai metafora atau perumpaan. Orang berduyun-duyun mendengarkan pidatonya untuk mendapatkan semangat baru dan tergerak untuk melawan penjajah.

Martin  Luther King mengubah opini sebagian besar rakyat Amerika melalui pidatonya yang terkenal “I have a dream”. Saya mempunyai suatu impian. Dengan pidato tersebut, Martin Luther menunjukkan cita-cita dan impiannya untuk melihat tidak adanya ras antara kulit hitam dan kulit putih di Amerika. Winston Churchil, perdana menteri Inggris, mengobarkan semangat rakyat Inggris untuk melawan Nazi Jerman dengan kata-katanya, “Kita akan mempertahankan negara ini dengan tetesan darah, keringat, dan air mata. Kita akan bertempur di bukit-bukit, kita akan bertempur di pegunungan-pegunungan, kita akan bertempur di pantai-pantai, untuk mempertahankan negara yang kita cintai...”

Bila kita memahami bahwa di panggung politik kata-kata dapat digunakan senjata, entah untuk menyuntikkan semangat, atau membangkitkan kekuatan, atau bahkan memicu kebencian antara kedua kelompok, maka dengan mudah kita dapat memahami kita pun memiliki kekuatan kata-kata itu. Kekuatan yang sering kali tidak kita gunakan. Kekuatan yang sering tidak kita optimalkan. Bahkan kadang-kadang malah menjadi senjata makan tuan bagi diri sendiri.

 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.