^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Menjadi Sabar

“Mas, bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi orang sabar?”, tanya seorang teman tiba-tiba kepada saya. Saya terkejut dengan pertanyaan tersebut. Lebih-lebih setelah teman tersebut menilai saya adalah role model yang tepat untuk sosok penyabar yang ada di kantor. 

Usut punya usut, teman tersebut ternyata mendapat info dari teman yang lain bagaimana saya dengan penuh kesabaran meladeni keluh kesah dan curhatan teman yang lain itu.

Awalnya, saya cuma tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tetapi setelah bolak-balik didesak dan diteror dengan pertanyaan serupa, saya mencoba menjawab sebisa saya.

Jawaban saya yang pertama kepadanya, saya bukanlah orang yang sabar 100%. Saya harus jujur dan menjawab apa adanya. Ada banyak situasi yang membuat saya tidak menjadi sabar. Saya bisa tidak sabar saat macet di tengah belantara Jakarta, saya tidak sabar kalau tiba-tiba mobil saya dipotong dengan manis oleh sopir metromini, saya tidak sabar kalau salah jalan, dan seterusnya.

Saya bisa dan mudah sekali tidak sabar untuk hal-hal sepele yang ada di depan saya. Bahkan pernah suatu kali, saya ngomel dan mendamprat pelayan, satpam sekaligus manager sebuah restoran cepat saji saking lambatnya mereka bekerja.

Jadi, kalau dibilang saya adalah orang yang sabar, ups, nanti dulu. Mungkin itu cuma setitik peristiwa di tengah-tengah lautan kehidupan saya yang lain.

Anehnya, begitu saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang sabar, bahwa saya lebih banyak tidak sabarnya daripada sabar, menjadi starting point yang tepat untuk menjadi lebih-sabar ( Sengaja saya pakai istilah lebih-sabar, karena sabar ukurannya sangat relatif ).

Saya katakan kepada si teman tersebut, dari kesadaran-kesadaran kecil akan ketidaksabaran itulah saya melatih diri untuk menjadi lebih-sabar setiap hari. Sering kali, saya mencatat secara khusus peristiwa atau situasi yang membuat saya menjadi tidak sabar.

Setelah itu, sambil memandangi catatan khusus tersebut, saya berjanji kepada diri sendiri untuk lebih-sabar saat menghadapi peristiwa atau situasi yang sama tersebut.

Di hari yang lain, saat peristiwa atau situasi tersebut benar-benar terjadi, saya mempunyai kontrol diri yang lebih tinggi untuk menjaga ketidaksabaran saya.

Dari sinilah saya belajar untuk menjadi sabar.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.