^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Menjadi Sabar ( 2 )

Kepada siapa kita menjadi gampang untuk tidak sabar? Kepada siapa kita cenderung mudah meledak-ledak secara emosional?

Setiap kita bisa jadi punya jawaban tersendiri. Pengalaman bercerita bahwa saya lebih gampang untuk tidak sabar terhadap mereka yang mempunyai status sosial atau posisi “lebih rendah” daripada saya.

Saya gampang sekali marah terhadap office boy di kantor saat dia melakukan sedikit kesalahan. Marah sama atasan?

Ooo…nanti dulu. Saya harus berhitung dengan cermat saat marah, atau lebih tepatnya komplain (komplain tentu saja berbeda dengan marah !) terhadap atasan. Saya akan mencari waktu, tempat dan suasana yang tepat untuk marah (atau komplain) ke atasan.

Saya mudah sekali mengumpat terhadap sopir angkot di tengah jalan. Lebih-lebih kalau dia secara mendadak memotong jalan saya di depan atau ngetem terlalu lama di perempatan jalan. Bagaimana kalau yang memotong jalan saya adalah seorang oknum pejabat pemerintah?

Ups, tentu saya tidak akan langsung mengumpat. Paling-paling saya akan menggerutu atau ngomel saja. Lebih-lebih kalau si oknum tersebut dikawal oleh petugas. Mungkin juga saya akan menulis di surat pembaca media massa tentang kelakuan oknum pejabat tersebut. Tetapi hampir pasti saya tidak akan mengumpat di tengah jalan.

Pengalaman menguraikan bahwa marah saya menjadi demikian terukur, hati-hati dan sopan saat berhadapan dengan mereka yang punya ”posisi” lebih tinggi daripada saya.

Saya berefleksi, barangkali saya akan menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih tenang dan tidak emosional, saat saya mampu mendudukkan diri sejajar dengan siapa saja. Saat saya mampu meletakkan mereka yang selama ini saya nilai berada ”di bawah saya” menjadi sejajar dengan saya, di saat itulah saya naik kelas menjadi pribadi yang lebih sabar.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.