^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Ujian Sebuah Keyakinan

Seringkali, keyakinan kita akan suatu hal diuji oleh peristiwa sehari-hari. Pada saat kita merasa yakin akan sesuatu hal, dan kepada semua orang kita menunjukkan keyakinan tersebut, saat itulah ujian datang menghampiri kita.

Saya mengalami ujian tersebut kemarin.

Sore kemarin cuaca sangat gelap. Hitam pekatnya hari diiringi dengan hujan yang setia mengguyur jalanan tol Cikampek hingga Jagorawi. Melaju dari Cikarang, saya bermaksud balik ke Bogor.

Melaju menembus hujan, akhirnya sampailah saya di pintu tol Bogor. Mobil saya antri untuk membayar tiket tol. Ada tiga mobil di depan saya.

“Ah, akhirnya sampai rumah juga,” pikir saya. Saya sudah membayangkan nikmatnya mandi, lalu membersihkan materi untuk training besok harinya.

Tiba-tiba, “Braaakkkkk.....”

“Apa tuh, Mas?” tanya Nina, istri saya yang duduk di bangku kiri. Penasaran dan kaget saya keluar dari mobil.

Tergopoh-gopoh pengemudi di belakang saya keluar dari mobilnya.

“Maaf, Pak. Saya silap. Saya mengantuk...”, tuturnya.

Mata saya membelalak melihat nasib bemper dan pintu bagasi Xenia saya. Busyet, ternyata Terrano itu nubruk bagian belakang mobil saya.

“Gimana, nih, Pak”, kata saya spontan.

“Maaf, Pak. Salah saya. Tapi kita minggir aja dulu”, kata pengemudi itu.

Dengan pikiran kacau, saya naik mobil untuk membayar tiket tol. Lepas dari pintu tol, mobil saya pinggirkan untuk menyelesaikan urusan tadi. Berbagai pikiran berkecamuk di benak saya.

Akan saya apakan pengemudi tadi? Bagaimana saya harus bersikap? Apakah saya harus marah-marah? Nuntut dan minta ganti rugi? Berapa ratus ribu harus saya minta?

Tapi, dia kan sudah minta maaf dan mengaku salah. Lagipula, cuaca memang gelap. Bagaimana kalau saya yang menjadi dia?

Ironisnya, tiga hari yang lalu saya baru saja mengajar satu dari 7 Kebiasaan Efektif nya Stephen Covey. Saya mengajar pentingnya bersikap proaktif. Saya mengatakan kepada peserta training, bahwa kalau kita emosi saat orang lain juga emosi, maka kita bukanlah manusia. Kita baru berada di level binatang.

Apapun situasinya, manusia pasti punya kebebasan memilih. Manusia memilliki kendali atas semua yang terjadi dalam dirinya.

Sore itu, saya “diminta” untuk membuktikan bahwa saya adalah pribadi proaktif.

“Saya gak sengaja, Pak. Saya silap. Saya mengantuk”, begitu tutur Pak Edi, pengemudi Terrano yang berprofesi sebagai driver untuk seorang pegawai pemerintah.

Lewat dialog yang bertele-tele, akhirnya saya minta nomor handphone nya.

Meski masuk mobil dengan perasaan tidak jelas dan bete, saya cukup bersyukur. Saya bersyukur karena tidak adu mulut dengan Pak Edi. Saya bersyukur karena dari mulut saya tidak terucap “Ganti dong. Masak gak tanggung jawab ....”

Sejujurnya, begitu masuk rumah saya ragu-ragu dengan nomor handphone yang saya bawa. Bisa saja Pak Edi dengan gampang membuang nomor handphone nya bukan? Atau tidak mempedulikan panggilan dari saya? Gampang sekali hal itu dia perbuat.

Ternyata, pikiran buruk saya tidak terbukti.

Dua hari ini Pak Edi menghubungi saya lewat SMS dan panggilan telepon. Sekali dia menghubungi untuk memastikan bahwa nomor yang dia hubungi benar-benar nomor saya. Kedua kalinya, pagi-pagi tadi, dia memberitahu saya kalau dia sudah menunggu di sebuah bengkel di Bogor. Dan ketiga kali, sore tadi, Pak Edi menelpon saya dan mengatakan dia sudah membawa Rp 600 ribu, sebagian untuk servis Terrano dan sebagian lagi untuk Xenia saya.

“Hanya ini duit yang saya punya, Pak. Saya dan istri saya sudah tidak punya lagi. Saya juga bingung, kayaknya gara-gara peristiwa itu saya mau dipecat oleh boss saya...”, demikian ungkap Pak Edi saat bertemu dengan saya.

Melihat ketulusan dan niat baiknya, saya terharu. Buat saya masalahnya sudah selesai. Saya minta Pak Edi untuk membawa kembali semua uangnya. Toh, mobil saya diasuransi.

"Beneran nih, Pak?" tanya Pak Edi kaget saat saya minta membawa kembali semua uangnya.

Saya mengangguk.

Tiba-tiba Pak Edi menjabat tangan saya erat-erat. "Terima kasih, Pak. Terima kasih", ucapnya.

Diam-diam saya bersyukur, walau nilai saya kurang sempurna, tetapi saya mampu lulus ujian proaktifitas kemarin. Saya bisa menjalani apa yang selama ini saya sering dengung-dengungkan di hadapan peserta training.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.