^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

ENJOY YOUR WORK

Apa yang Anda rasakan saat akan berangkat kerja di Senin pagi? Malas, ogah-ogahan, biasa saja, atau penuh antusias? Kalau sebagian besar perasaan yang Anda miliki di Senin pagi adalah malas atau ogah-ogahan, wah, berarti Anda harus menata ulang seluruh hidup Anda untuk bisa lebih menikmati kerja. Bukan hal yang gampang, karena itu berarti Anda harus mengubah keseluruhan mindset dan perilaku Anda tentang kerja.

Kalau Anda merasa “biasa saja” di Senin pagi, well, mungkin seolah-olah tidak ada masalah berarti buat Anda, tetapi,

saya khawatir kalau hal itu disebabkan Anda sudah “mati rasa” terhadap pekerjaan. Jadi mau Senin pagi, Selasa pagi, atau hari apapun, tidak berarti apa-apa bagi Anda. “Yah, gimana lagi, namanya juga kewajiban”, “Kalau gak kerja istri mau makan apa?”, ”Jalanin aja, gak usah terlalu banyak dipikir”, adalah beberapa ungkapan orang-orang yang mati rasa.

Kalau Anda merasa sangat bersemangat dan antusias di Senin pagi, selamat,

Anda adalah satu dari sangat sedikit orang yang bisa menikmati pekerjaan dan tempat kerjanya.

Sebagian besar orang merasa be-te dan capek menjelang Senin. Capek di sini bukan berarti capek fisik, tetapi lebih kepada capek mental. Capek pikiran dan perasaan. Itu sebabnya, begitu akhir minggu datang, begitu Jumat menjelang, semua ramai-ramai teriak ”thanks God it’s Friday !”

Orang-orang yang merasa malas dan ogah-ogahan kerja di Senin pagi, menjalani pekerjaaan sebagai sebuah rutinitas dan kewajiban semata-mata, bahkan menjadi sebuah keterpaksaan! Mereka menjadi budak-budak pekerjaan serta menjadi korban pekerjaan.

Setidaknya, ada lima hal yang membuat orang terpaksa menjalani pekerjaannya. Yang pertama adalah beban kerja. Beban kerja yang berlebih atau overload membuat orang lekas merasa capek. Overload bisa dalam arti kuantitas maupun kualitas.

Yang kedua adalah karir mentok atau tiada penghargaan kerja. Orang yang dari tahun pertama hingga tahun ke-10 terus saja menghadapi pekerjaan sama, tanpa adanya peningkatan karir akan mudah merasa capai. 

Hal yang ketiga adanya hubungan kerja yang buruk. Hubungan di sini bisa dalam arti antar sesama karyawan, atau antara karyawan dengan atasan. Survey di AS menyebutkan bahwa 90% orang keluar dari tempat kerjanya karena bermasalah dengan atasannya. Mulai dari sikap atasan yang tidak bersahabat, atasan yang dinilai tidak punya skill yang cukup, hingga atasan yang tidak bisa dijadikan panutan.

Perubahan yang terjadi tiba-tiba merupakan sebab keterpaksaan yang keempat. Lebih-lebih bila perubahan itu merupakan perubahan besar yang menyangkut budaya perusahaan. Begitu perubahan datang, karyawan menjadi terasing dengan lingkungan sekitarnya.

Hal yang kelima adalah perasaan kehilangan makna. Bila di tahun-tahun pertama bekerja merasa bisa memberikan kontribusi lebih ke perusahaan dan orang-orang di sekitarnya, ternyata memasuki tahun keempat atau kelima mulai timbul perasaan tidak berarti. ”Kayaknya, saya ada atau nggak ada di perusahaan ini nggak ada bedanya”, begitu perasaan tersebut berbicara.

Salah satu atau gabungan dari kelima hal di atas yang membuat kita menjalani pekerjaan dengan penuh keterpaksaan.

Lantas, bagaimana cara mengatasi kelima hal tersebut?

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.