PERSEPSI

Persepsi yang sudah ada di kepala kita akan menentukan perilaku yang akan kita jalankan. Seringkali, untuk menciptakan kebiasan-kebiasaan baru, kita terlalu fokus hanya pada perubahan perilaku. Padahal, jauh lebih efektif kalau kita fokus pada perubahan persepsi. Berfokus pada perubahan perilaku, hanya akan menciptakan perubahan-perubahan sementara. Sedangkan bila berfokus pada perubahan persepsi akan menciptakan perubahan yang bersifat tetap.

Simaklah ilustrasi berikut :

Seorang ibu, yang baru bergabung di suatu pertemuan, ditanya oleh teman-temannya,”Ibu pekerjaannya apa ?” Dan ibu itu menjawab, ”Oh, saya tidak bekerja. Saya ini cuma ibu rumah tangga biasa.”

Ibu yang kedua, yang juga baru bergabung di pertemuan tersebut, ditanya pertanyaan yang sama,”Kalau Ibu, pekerjaannya apa?” Ibu kedua ini menjawab, ”Pekerjaan saya? Oh, saya setiap hari menjaga anak-anak saya di rumah. Saya mempersiapkan anak-anak saya untuk menjadi pemimpin di masa depan.”

Menurut Anda, siapa yang akan lebih efektif menjalankan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga, ibu pertama atau ibu kedua ?

Saat ditanya tentang prestasi belajar anaknya, seorang Bapak menjawab,”Wah, anak saya bodohnya setengah mati. Yang nilainya bagus cuma kesenian. Matematika dan fisikanya hancur semua.”

Bapak kedua, ditanya pertanyaan yang sama, mempunyai jawaban berbeda,”Wah, anak saya memang matematikanya tidak begitu bagus, tetapi nilai keseniannya tinggi. Bisa jadi, besok dia akan jadi pelukis, penyair atau desainer ternama.”

Menurut anda, siapa yang akan lebih efektif menjadi seorang ayah, bapak pertama atau bapak kedua ?

Setidaknya, ada 3 hal yang menarik tentang persepsi. Pertama, biarpun obyek yang dilihat sama, tetapi orang bisa mempunyai sudut penglihatan yang berbeda. Perbedaan tersebut bisa diakibatkan oleh pengalaman, wawasan, dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang.

Kedua, kita hidup di dunia persepsi. Setiap hari kita melihat dunia bukan seperti apa adanya. Kita melihat dunia seperti yang kita inginkan.

Ketiga, karena merujuk pada pengalaman, wawasan dan nilai-nilai seseorang, maka persepsi tidak dapat dikatakan ”benar” atau ”salah”. Persepsi hanya dapat dikategorikan ”tepat” atau ”tidak tepat”. Semakin kita bersedia untuk memeriksa, meneliti, dan menguji persepsi kita, maka kita akan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mempunyai persepsi yang tepat.

Memiliki persepsi yang tepat, akan membuat perilaku kita tepat, dan sebagai hasilnya kita akan memetik perubahan-perubahan yang bersifat tetap.