^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Pastikan Anda Hadir

Bayangkan situasi di sebuah restoran. Dua orang masuk, tidak ada pelayan yang menyambut. Mereka membuka-buka menu sendiri. Kelihatan bingung dengan istilah-istilah asing yang ada di menu tersebut. Mau bertanya kepada si pelayan, tapi nampaknya mereka sedang sibuk sendiri-sendiri. Mereka tidak ada yang siap melayani tamu yang masuk.

Kalau Anda sebagai konsumen menjadi salah satu tamu dari restoran tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Marah? Kecewa? Atau langsung pulang dan tidak jadi makan di restoran tersebut?

Barangkali Anda akan mengatakan “Ah, kalau saya menjadi si pelayan, tidak mungkin saya akan membiarkan tamu-tamu saya. Pasti akan segera saya sambut, saya tanyakan menu apa yang akan ia pesan, dan akan saya jelaskan menu-menu yang ada di restoran saya.”

Restoran di atas hanyalah sebuah ilustrasi tempat atau lokasi saat konsumen seharusnya menerima sambutan. Sebagai ilustrasi tempat, restoran bisa berubah menjadi sebuah showroom mobil. Bila Anda seorang SPG, apakah Anda membiarkan konsumen Anda yang datang ke showroom, atau Anda dengan antusias mulai menawarkan “menu-menu” yang ada di showroom tersebut.

Restoran bisa berubah menjadi sebuah bank. Di dalam bank, apakah Anda sebagai frontliner bank menyambut setiap nasabah yang datang, memberikan penjelasan mengenai prosedur antrian yang ada di bank, dan menjelaskan form-form yang harus diisi oleh nasabah?

Konsumen selalu menginginkan agar Anda, sebagai wakil perusahaan dan dipandang oleh konsumen sebagai perusahaan itu sendiri, selalu hadir dan siap melayani mereka. Konsumen merasa bahwa harga yang mereka bayar sudah termasuk di dalamnya adalah kesiapan kita untuk selalu hadir dan melayani mereka.

Konsekuensi dari kehadiran ini menjadi banyak dan sangat beragam. Di beberapa perusahaan besar, mereka menyiapkan call centre yang siap 24 jam sehari, 7 hari seminggu untuk melayani dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan. Perusahaan-perusahaan ini menginginkan agar mereka gampang diakses oleh konsumen mereka. Perusahaan-perusahaan mencoba untuk selalu “hadir” dalam diri konsumen.

Kehadiran juga bisa terwujud dalam follow up call yang kita jalankan. Kita menelpon konsumen untuk menanyakan kesulitan mereka dalam memakai produk kita. Kita menggunakan follow up call juga untuk meminta masukan-masukan dari konsumen tentang produk kita. Kita juga mengucapkan selamat tahun baru, selamat lebaran ataupun selamat natal untuk menunjukkan kepada konsumen kita bahwa kita hadir untuk mereka.

Pertanyaan selanjutnya sekarang, sudahkah kehadiran kita cukup untuk mereka? Sudahkan mereka terkesan dengan kehadiran kita? Atau lebih jauh lagi, sudahkah nama kita benar-benar sudah tertancap di hati dan di benak konsumen?

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.