^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Create Memorable Experience

Apa yang Anda harapkan saat menonton pertunjukkan film di bioskop? Tentu, Anda ingin mendapatkan hal yang menarik di sana. Bukan filmnya saja yang Anda incar, tetapi juga audio di theaternya, suasana di ruang tunggunya, dan para petugas bioskopnya. Blitz Megapleks mencoba menjawab hal ini. Bioskop yang berlokasi di Grand Indonesia ini mencoba menawarkan hal yang berbeda daripada bioskop di Jaringan 21.

Ada 12 theater yang ada di bioskop ini. Begitu masuk ke bioskop, Anda akan dihadapkan pada pilihan film yang begitu beragam, dari film-film Hollywood yang terbaru hingga film-film independen yang biasa ikut di festival. Anda mendapat keleluasan penuh untuk menonton film yang Anda inginkan, bahkan untuk dapat menonton film independen Anda tidak harus menunggu hingga datangnya festival.

Blitz tidak pelit dengan pengadaan ruang tunggu penonton. Ruang tunggunya demikian luas sehingga memungkinkan penonton untuk bersantai sejenak sambil menunggu film diputar. Atau, Anda dapat mendengarkan lagu-lagu yang disediakan di sana denganearphone di telinga Anda.

Kantinnya menyediakan menu-menu yang berbeda dengan bioskop yang lain. Yang lebih menarik lagi, petugas-petugasnya tidak berpakaian formal (dengan baju hitam ) tetapi tampil funky dan friendly. Mereka tidak terjebak untuk berbaju resmi tetapi dapat tampil dengan santai, kasual, dan oke.

Blitz dengan cerdik menjabarkan konsep experiential marketing yang digagas oleh Bernd Schmitt. Shmitt mengatakan experiential marketing terbagi menjadi lima hal. Yang pertama adalah sense, yaitu bagaimana kita sedapat mungkin “mengguncang” seluruh panca indera pelanggan. Semua panca indera pelanggan harus dapat melihat sesuatu yang luar biasa dari produk yang kita tawarkan. Blitz mengguncang panca indera pelanggan lewat penglihatan ( suasana ruang tunggu bioskop yang lapang dan luas, 12 theater yang dimiliki ), pendengaran ( audio di dalam theater, lagu-lagu yang tersedia di ruang tunggu ), penciuman ( bau harum ruangan ), dan pengecap ( makanan di kantin bioskop yang unik ).

Hal kedua adalah feel. Riset membuktikan bahwa perasaan seseorang lebih dulu “menilai” suatu produk sebelum pikirannya bekerja. Kalau ada rekan kita di kantor baru saja mengikuti sebuah training, tanyakan kepada dia bagaimana trainingnya. Kalau dia merasafeel good, maka spontan dia akan mengatakan, “Wah, trainingnya enak..”, atau “Gila, bagus banget trainingnya !” Perhatikan komentar-komentar tadi. “Enak” dan “gila” adalah ungkapan-ungkapan emosional yang keluar dari perasaan si peserta training. Penilaian dia yang pertama-tama berasal dari perasaannya. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk dapat menciptakan feel good bagi para pelanggan.

Setelah feel, lalu apa? Hal selanjutnya adalah : think. Kembali lagi kepada peserta training di atas. Setelah dia merasa feel good, maka dia akan memiliki pikiran positif terhadap training yang diikuti. Ketika dimintai komentar yang lebih detail mengenai trainingnya, mungkin dia akan mengatakan, “Instruktur trainingnya jagoan”, atau “Materinya menarik. Belum pernah ada sebelumnya”, atau “Tempat trainingnya bagus !” Setelah dia mendapatkan perasaan positif, akan lebih mudah juga bagi dia untuk berpikir positif.

Act adalah langkah selanjutnya. Kita harus berupaya melibatkan pelanggan dalam setiap produk yang kita jual. Kalau kita menjual mobil misalnya, biarkan dia melakukan test driveuntuk mencoba-coba produknya. Dia akan semakin puas manakala tidak hanya mendengarkan komentar dari kita tentang produk yang kita jual tetapi juga ikut langsung merasakannya.

Langkah terakhir adalah relate. Pembentukkan klub, gathering untuk para pelanggan, merupakan contoh-contoh relate yang bisa kita lakukan. Pelanggan pasti membutuhkan perasaan dihargai sebagai salah satu pengguna produk kita. Dengan mengundangnya di sebuah acara perusahaan, dia akan merasa sangat terapresiasi.

Pada akhirnya, sense - feel - think - act - relate, bisa kita gunakan untuk melengkapi produk atau jasa yang kita tawarkan kepada pelanggan. Harapannya, dengan begitu pelanggan bisa kembali dan kembali lagi berbisnis dengan kita. 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.