^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

Go to The Extra Miles

Ah, ada taksi, batin saya begitu melihat sebuah taksi berwarna biru di depan sebuah ruko di kawasan Kelapa Gading. Saya mendekati taksi tersebut dan bergegas minta diantarkan ke rumah.

Hujan rintik-rintik, jam yang sudah menunjukkan angka 9 malam membuat saya bersyukur sekali bisa mendapatkan taksi.

“Maaf, Pak. Dengan Pak Roni?” tanya sopir taksi dari balik jendela.

Saya menggelengkan kepala. Si sopir buru-buru menambahkan, “Maaf, saya sudah dibooking Pak Roni. Diminta nunggu di sini.”

Wah, jadi repot nih. Sudah malam, dingin, hujan lagi, dan saya harus mencari taksi.

“Bapak berteduh saja, biar saya yang mencarikan taksi,” ujar si sopir sambil keluar dari mobilnya.

“Gak usah, Pak,” tukas saya merasa nggak enak.

“Gak pa-pa, Pak. Berteduh saja biar saya yang mencarikan taksi.” Sopir tersebut sudah setengah berlari ke tepi jalan raya untuk mencegat taksi.

Wah, hebat juga sopir ini, pikir saya. Tanpa diminta, dia mencarikan saya taksi, mau kehujanan dan berpayah-payah berlarian di tengah hujan. Saya melirik ke taksinya dan melihat tulisan “Bluebird” di pintunya dan nomor taksi DB 2565. Lewat sepuluh menit dia mendapatkan taksi, mempersilakan saya naik dan membukakan pintu untuk saya.

Pengalaman di atas bukanlah pengalaman satu-satunya yang mengesankan saya saat berinteraksi dengan Bluebird.

Anda sendiri, kalau misalnya ditanya, perusahaan taksi mana yang servisnya nomor satu? Perusahaan taksi mana yang servisnya jauh melebihi yang lain?

Rasa-rasanya, jawaban Anda dan saya pasti sama. Jawabannya Bluebird, bukan? Bisa jadi, satu atau beberapa orang di antara Anda akan memberikan jawaban beda, karena pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan bersama Bluebird. Tetapi secara umum, apalagi kalau disurvey, sebagian besar dari kita akan mengatakan Bluebird lah perusahaan taksi dengan servis nomor satu.

Saking terkenalnya Bluebird dalam servis, sehingga beberapa turis mancanegara selalu diwanti-wanti oleh biro perjalanannya untuk memilih Bluebird sebagai sarana transportasinya. Warna biru taksi Bluebird menjadi tanda bagi para turis tersebut. “When you need a taxi, choose the blue one” , demikian tertulis di tourist guidance para tamu mancanegara tersebut.

Sedemikian hebatnya warna biru tersebut, beberapa perusahaan taksi lama dan taksi baru menggunakan warna biru juga untuk armadanya. Sebuah PR yang cukup memusingkan Bluebird, lebih-lebih setelah diketahui bahwa warna biru sebagai armada taksi tidak dapat dipatenkan. Artinya, sah-sah saja para kompetitor Bluebird menggunakan warna tersebut.

Banyak hal yang membuat taksi Bluebird terkenal servisnya. Dari pengalaman saya di atas, sikap sopirnya yang mau melakukan go to the extra miles ( memberi lebih dari yang diminta ) membuat servis Bluebird menjadi terkenal.

Bayangkan saja, tanpa diminta, tanpa disuruh, meski sedikit susah, sopir Bluebird mau mati-matian mencarikan taksi untuk saya dan meminta saya untuk berteduh. Padahal, dia bisa saja tetap berada di dalam taksinya dan membiarkan saya sendiri yang mencari taksi.

Bagaimanapun, itulah contoh konkrit dari sebuah servis. Go to the extra miles. Berbuat lebih dari yang diminta. Bahkan berbuat dahulu, tanpa harus diminta. Tidak gampang bersikap seperti itu. Butuh pemahaman mendalam dan latihan yang panjang.

Pemahaman, bahwa servis adalah sikap aktif kita untuk melayani pelanggan. Sikap aktif kita untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sebelum pelanggan sendiri memintanya.

Butuh latihan yang kontinyu dan terus-menerus. Latihan untuk selalu siap melayani pelanggan. Dan latihan untuk dengan jeli dan cermat melihat apa yang menjadi kebutuhan pelanggan.

Dan dengan pemahaman dan latihan tersebut, kita menciptakan servis yang excellent kepada semua pelanggan kita. Bagaimana menurut Anda?

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.