^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

ERA SERVICE

Di tahun 70-an, sebagian orang masih membedakan antara bisnis jasa dan bisnis manufaktur. Bank, hotel dan restoran disebut sebagai bisnis jasa. Pabrikan mobil, sepeda motor dan industri baja disebut sebagai bisnis manufaktur. Namun semenjak tahun 80-an, orang tidak lagi menarik garis tegas antara bisnis jasa dan bisnis manufaktur. Pabrikan mobil, sepeda motor, alat berat dan industri baja pun menyebut dirinya bergerak dalam bisnis jasa.

Perusahaan besar seperti IBM, dari awal berdiri sudah memproklamirkan dirinya sebagai perusahaan jasa. Bahkan, semboyannya berbunyi "IBM means service". Mengapa IBM tidak mengatakan bahwa dirinya adalah perusahaan berteknologi tinggi? Perusahaan hi-tech? Mengapa IBM lebih memilih kata "service" untuk menandai dirinya? Tampaknya, visi sebagai perusahaan jasa sudah ditanam jauh-jauh oleh para pendiri IBM.

Di Indonesia, United Tractor ( UT ) pun memposisikan dirinya dengan kalimat "We are a service company". Padahal, jelas-jelas bahwa UT adalah perusahaan manufaktur. UT adalah perusahaan alat berat. Tetapi UT pun menyadari yang dijual olehnya bukan hanya sekedar produk, bukan hanya sekedar traktor, escavator, atau shovel, melainkan juga seluruh jasa yang berhubungan dengan pengadaan alat berat.

Saat ini pun , fakta di lapangan menunjukkan bahwa perusahaan yang bervisi sebagai service company dan memberikan perhatian lebih kepada customer menduduki posisi unggul di pasar. Siapa yang tidak kenal dengan Sonny Ericsson? Perusahaan ini mampu menghasilkan produk handphone yang handal dengan fitur-fitur yang canggih. Tetapi di pasaran Sony Ericsson diungguli oleh Nokia yang bersemboyankan connecting people. Rupanya, pasar lebih mengapresiasi produk yang diposisikan bisa "ramah" dengan mereka daripada produk yang diposisikan canggih.

Yamaha, setelah 27 tahun tertinggal oleh Honda di Indonesia, mulai menyusul dan mendapatkan posisi sebagai penantang serius Honda dengan visinya untuk selalu"touching your heart". Filosofi kando ( touching the heart, menyentuh hati customer ) membuat Yamaha lebih serius membuat produk yang mengikuti selera customer.

Pendek kata, saat ini kita hidup di era service. Hanya perusahaan yang concern terhadap service lah yang bisa survive dalam situasi persaingan pasar saat ini. Tanpa adanya service, tanpa adanya kepedulian terhadap customer, perusahaan sedang menuju ke jurang kehancuran.

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.