^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

3 C DALAM PRESENTASI

Sekali lagi, saya ingin bicara tentang ketrampilan presentasi.

Banyak teori tentang presentation skill, dari yang bahasannya pendek dan singkat-singkat saja, sampai dengan yang bahasannya berpanjang-panjang lebar. Saya sendiri lebih suka mengaitkan presentasi dengan Teori 3 C.

Apa itu 3 C ?

Buat Pembukaan Yang Berkesan

Beberapa ahli komunikasi mengatakan, 5 menit pertama dalam sebuah presentasi sangat menentukan tanggapan audiens terhadap pembicara. Bila dalam 5 menit pertama tersebut pembicara gagal menciptakan sesuatu yang berkesan, di menit-menit selanjutnya audiens akan ”lari” dan meninggalkan si pembicara.

Menit-menit pembukaan presentasi ini adalah saat yang kritis. Di sinilah audiens mulai memberikan penilaian apakah Anda layak untuk didengarkan atau tidak. Apa yang bisa dilakukan oleh si pembicara untuk membuat 5 menit tersebut menjadi menit-menit yang berharga bagi dirinya dan bagi audiens ?

MEMBACA, MENGUPDATE DAN MENGUPGRADE DIRI

Sebagai seorang trainer, suka tidak suka harus diakui, bahwa membaca adalah amunisi seorang trainer. Bukan saja amunisi pelengkap, tetapi juga amunisi kaliber besar. Membaca membuat pengetahuan dan wawasan seorang trainer tetap terisi. Maka, seorang trainer yang tidak mempunyai hobi membaca, hanya seperti katak dalam tempurung. Pengetahuan dan wawasan seorang trainer harus selalu di update dan diupgrade.

Atasi Rasa Gugup

“Pak, bagaimana mengatasi rasa gugup di depan audiens?”, begitu pertanyaan yang sering diajukan peserta dalam Training for Trainers yang saya bawakan.

Ternyata, penyakit “senang gugup” saat bicara di depan umum dialami oleh sebagian besar orang. Bahkan di Amerika Serikat, negara yang tradisi berbicara spontannya kuat, berbicara di depan umum masih menjadi ketakutan nomor satu dibandingkan dengan takut ketinggian, takut kekurangan uang, takut akan kematian, takut akan kesendirian dan segala jenis ketakutan yang lain.

Tidak seperti yang dipikirkan banyak orang, pembicara-pembicara handal pun ternyata memiliki rasa gugup saat akan berbicara di depan audiens. Winston Churchil, misalnya. Perdana mentri Inggris di jaman Perang Dunia II , yang terkenal dengan pidato-pidatonya yang menggelegar dan menggugah rakyat Inggris, ketika itu mengakui kalau dirinya pun gampang gugup saat akan berbicara di depan audiens.

Atasi Rasa Jenuh Audiens

Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh pembicara adalah audiens yang jenuh di dalam ruangan. Audiens jenuh karena penampilan pembicara yang kurang ”menggigit” dan tidak menginspirasi. Sebuah penelitian di AS mengungkapkan, audiens yang terdiri dari para perwira Marinir AS, yang terbiasa untuk fokus dan berkonsentrasi, mengalami kejenuhan setelah 20 menit mendengarkan seorang pembicara. Hal yang paling mereka ingat adalah materi yang ada di awal presentasi dan yang ada di akhir presentasi. Untuk itulah, perlu dibuat jeda setiap 20 menit waktu presentasi berjalan.

Apa yang bisa dilakukan dalam waktu jeda tersebut?

Kenali Panggung Pertunjukkan

Sebelum melakukan pertunjukkan, artis dan para pendukungnya biasa melakukan gladi resik atau latihan di panggung tempat mereka akan menyanyi. Mereka akan melakukan gladi resik minimal satu hari sebelum pertunjukkan. Lamanya gladi resik satu hingga dua jam. Bahkan, beberapa artis ternama melakukan meminta waktu untuk gladi resik lima sampai enam jam. Mereka mencoba untuk mengenal setiap sudut panggung, dimensi panggung, jarak panggung ke penonton, sound system, arah lighting, dan lain-lain. Bila melibatkan beberapa penari latar, mereka akan mengukur gerakan tubuh mereka sehingga bisa optimal di panggung. Pendek kata, mereka tidak mau tampil sebelum benar-benar mengenali panggung pertunjukkan. 

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.